Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

THE HORSE (28)

Achmad RW • Jumat, 15 Desember 2023 | 13:10 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Hingga pada ayat ke delapan surah al-Adiyat ini, bila dipilah-pilah dari sisi pesan globalnya, mudahnya ada dua.

Pertama, dari ayat pertama hingga ke lima, Tuhan bersumpah dengan kuda perang dengan segala sifatnya, pemberani, patuh, penyerbu dan lain-lain.

Kedua, tujuan deretan sumpah, yaitu mengingatkan manusia jangan sampai menjadi makhluk tidak tahu diri, kufur dan nggeragas.

Bukan tidak mengerti bahwa sifat itu buruk, melainkan ndableg dan sengaja (wa innah ‘ala dzalik la syahid). Itu semua tercover pada ayat nomor 6,7 dan 8. Arahnya apa..?

Manusia yang punya akal sehat, mengerti keimanan, mengerti ada hari akhir, mengerti ada hari pembalasan, ada surga dan ada nereka, mengerti bahwa harta itu tidak ada gunanya di hadapan Tuhan nanti.

Kecuali yang sudah diamal- jariahkan, lho kok masih banyak yang tidak mau berbuat kebajikan. Kok ada yang maling, korup, menipu, malas beribadah dan lain-lain.

Perbandingannya dengan kuda perang yang tidak mempunyai deposito, tidak mengerti ada atau tidak ada makanan untuk esok hari.

Tapi sangat patuh kepada sang majikan meskipun diperintah bangun pagi untuk melakukan serangan fajar, berlari kencang, menerobos jantung pertahanan musuh.

Kuda-kuda itu patuh dan hanya patuh saja adanya tanpa catatan.

Segera bangun, siap mengerjakan perintah, mampu mengusir rasa malas dan tak pernah beralasan. Pernahkah anda malas beribadah.., pernahkah anda enggan bersedekah..?

Bergurulah kepada kuda perang pada surah al-‘adiyat ini.

Baca Juga: THE HORSE (25)

Perkara berguru, tidak harus kepada manusia yang lebih pinter, tidak harus seperti transfer ilmu pengetahuan di kelas atau perkuliahan.

Semua yang bisa diambil manfaat, diambil kebaikannya adalah pembelajaran, adalah proses thalab al-ilm.

Qabil, putra nabi Adam alaihissalam sakit hati dan dendam terhadap saudara kandungnya sendiri, Habil. Lalu dia bermaksud membunuh. Tapi tidak mengerti cara membunuh.

Tuhan mengutus dua ekor burung gagak yang bertarung di hadapan Qabil, seolah memberi kuliah sekaligus praktikum bagaimana cara membunuh.

Salah satu burung gagak mematuki kepala musuhnya dengan paruhnya berkali kali hingga tewas. Gagak pembunuh itu, kemudian menggali lobang dan korbannya dikubur.

Si Qabil mengerti, lalu mempraktikkan. Itulah, yang kemudian menjadi dasar syariah penguburan bagi anak Adam yang mati.

Tidak dibakar atau dibuang di tempat sepi, lalu sebagai makanan binatang buas.

Siapa menjadikan burung gagak sebagai pemandu, maka dia akan dituntun menuju bangkai.

(bersambung, in sya Allah).

Editor : Achmad RW
#Tafsir #The Horse #kuda