RADAR JOMBANG - Matan Al Jurumiyah merupakan salah satu kitab nahwu pemula yang sangat populer dikalangan para pelajar khusunya didunia pondok pesantren.
Kitab untuk pelajaran nahwu ini hampir dikaji seluruh kalangan santri baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.
Karena isinya yang mudah dipahami, membuat kitab jenis ini menjadi kajian wajib ketika ingin menguasai ilmu nahwu.
Syekh Muhammad Bin Dawud As-Shonhajiy merupakan pengarang dari kitab tersebut.
Konon ketika awal menulis kitab Jurumiyah, beliau pergi ke pinggir sungai kemudian berdo’a kepada Allah SWT:
”Ya Allah, jikalau Engkau ridho dengan karangan hambaMu ini, hamba akan memasukkan kertas yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim ini ke dalam air sungai yang ada didepan hamba. Jikalau tintanya hilang berarti Englkau tidak ridho. Akan tetapi, jikalau tintanya tidak hilang berarti Engkau ridho Ya Allah.” Demikian do’a beliau.
Beberapa menit setelah kertas yang bertuliskan tulisan pertama beliau dimasukkan kedalam air sungai tadi.
Ternyata tinta yang ada dalam kertas tersebut masih, tidak hilang sedikitpun. Hal tersebut menandakan Allah SWT.
Ridho dengan karangannya. Dengan hal itulah membuat syekh As Shonhajiy melanjutkan karangan kitab Matan Al jurumiyah yang sampai sekarang banyak dikaji para santri karena barokahnya.
Kitab matan Al Jurumiyah terdiri dari 25 bab. 46 halaman. Diawali dengan bab kalam dan diakhiri bab makhfudotil asma’.
Kitab yang singkat tapi memuat ruang lingkup ilmu nahwu yang sangat luas.
Baca Juga: Melihat Koleksi Kitab Kuno Tulisan Tangan KH Hasyim Asy'ari di Tebuireng (1)
Sehingga, banyak dari guru nahwu mengatakan :”jikalau ingin memahami ilmu nahwu, mulailah dengan kitab matan jurumiyah.”
Karena materinya yang singkat dan mudah dipahami bagi nahwu pemula.
Akan tetapi siapa sangka, dalam kitab matan jurumiyah terdapat penjelasan tersembunyi.
Walaupun kitab tersebut membahas tentang ilmu nahwu, didalamnya juga terdapat penjelasan makna kitab secara ilmu tasawwuf.
Salah satunya ialah tentang orang-orang yang senantiasa diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Penjelasan tersebut terdapat di bab ke-5 yakni bab marfu’atil asma’.
Jikalau dibahas dari fan nahwu, bab marfu’at ini menerangkan tentang isim-isim yang dibaca rofa’.
Akan tetapi, kalau dikaji dari fan tasawwuf, bab marfu’at ini menerangkan orang-orang yg mendapatkan dejarat yang tinggi dihadapan Allah SWT. Siapakah orang-orang tersebut?
Yang pertama ialah orang yang menjadi pelaku kebaikan (fa’il), pengganti pelaku kebaikan tadi (naibul fa’il).
Juga orang yang memulai kebaikan (mubtada’) dan orang yang menjadi pasangan/pendamping yang memulai kebaikan tadi (khobar).
Begitupun untuk orang yang dianiaya tapi bersabar (isim kaana dan Khobar inna) dan orang-orang yang selalu mengikuti jejak orang berbuat kebaikan (isim tawabi’).
Itulah orang-orang yang diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Versi kitab karangan Syekh Muhammad Bin Dawud As Shonhajiy yakni Matan Al jurumiyah.
Semoga kita termasuk dari ketujuh golongan tadi. (mg4/riz)
Editor : Achmad RW