Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

THE HORSE (26)

Achmad RW • Jumat, 1 Desember 2023 | 13:10 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Itsar, mengutamakan orang lain pada obyek duniawi seperti dikemukakan pada edisi sebelumnya.

Dikisahkan pada sabab nuzul atau latar belakang historis ayat al-Hasyr tersebut.

Kisahnya begini: Malam itu, di Masjid Nabawi ada tamu menghadap Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Rupanya, dia datang dari pedesaan yang jauh. Nampaknya gak punya uang dan kelaparan.

Rasulullah SAW menawarkan kepada para sahabat: ’’Siapa di antara kalian yang berkenan menjamu makan malam tamu ini..?"

Seorang sahabat bersedia dan segera mengajak si tamu pinarak ke rumah tanpa berpikir panjang, adakah makanan di rumah siap dihidangkan.

Sahabat itu membisiki sang istri, hendaknya segera menyiapkan makan malam untuk sang tamu.

Bukan main kagetnya sang istri, bingung dan tersipu, karena tidak ada makanan tersedia untuk makan malam, kecuali hanya untuk satu orang.

Sementara keluarga tuan rumah dan anaknya belum makan. Kemudian muncul ide brilian sekaligus unik.

Bahwa: ’’Satu piring makanan itu disajikan khusus untuk tamu. Tempat duduk dan segalanya diatur sedemikian rupa.

Sementara tuan rumah duduk berseberangan menghadapi piring kosong. Tamu dipersilahkan menikimati, sementara tuan rumah pura-pura ikut menemani makan.

Baca Juga: THE HORSE (22)

Demi lancarnya adegan tersebut, maka lampu dipadamkan total, sehingga drama berjalan mulus. Dan, sukses tanpa ada curiga.

Subuh, setelah salat berjamaah, Rasulullah SAW berdiri menghadap para sahabat dan berpidato dengan wajah berseri.

Bahwa, semalaman Tuhan tersenyum dan terkagum-kagum melihat hamba-Nya melakukan jamuan makan malam yang sangat spektakuler bersama tamu.

Kisah ini, lalu diabadikan pada ayat al-Hasyr di atas.

Versi lain adalah riwayat Abdillah ibn Umar RA yang pernah memberi hadiah kepada seorang teman kepala kambing yang sudah dimasak lezat.

Di luar dugaan, kepada pelayan suruhan, teman itu mengatakan: ’’Terima kasih, tapi sesungguhnya ada teman saya, si Fulan ibn Fulan dan keluarganya lebih membutuhkan makanan ini dari pada saya. Tolong antarkan ke sana..’’

Si pelayan segera menuju si Fulan yang dimaksud. Tapi sasaran kedua ini juga mengatakan hal yang sama.

Kemudian pelayan menuju ke alamat ke tiga. Fulan ketiga juga mengatakan hal yang sama, sehingga melalui tujuh putaran dari Fulan ke Fulan, kemudian kembali lagi ke si pemberi awal.

Sifat menjaga diri, pantang meminta, pantang dremis itu namanya ’’iffah’’.

Melepas kepentingan pribadi dan mengutamakan orang lain karena Allah SWT, meskipun diri sendiri butuh itulah ’’itsar’’ yang dikagumi Tuhan dan pasti dibayar dengan yang terbaik.

Tidak hanya itu, ternyata, dari si Fulan pertama hingga terakhir, masing-masing tercatat sebagai sudah bersedekah.

Berpahala tanpa mengeluarkan dana, hanya dilewati dan diimbal-imbalno tok. ’’Ya Tuhan, anugerahilah kami hati mulia seperti ini, amin.’’

(bersambung, in sya’ Allah).

 

Editor : Achmad RW
#sahabat #nabi #itsar