Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.076, Berpikirlah Nikmat Agar Bersyukur, Berpikirlah Azab Agar Takut Maksiat

Achmad RW • Kamis, 23 November 2023 | 13:40 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

JOMBANG - Pengasuh PP Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong), menjelaskan pentingnya berpikir yang membahagiakan.

Pentingnya berpikir membahagiakan itu disampaikannya saat  ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (22/11).

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tafakur satu jam lebih baik ketimbang ibadah 60 tahun,’’ tuturnya.

Tafakur atau berpikir yang dianjurkan di antaranya, berpikir tentang nikmat-nikmat Allah SWT. Kita diberi hidup. Diberi sehat, bisa makan minum normal.

Bisa kencing dan berak normal. Sementara banyak orang sakit tak bisa makan minum. Bahkan tak bisa kencing dan berak.

Malah ada yang harus operasi habis puluhan juta karena kencing dan beraknya bermasalah.

’’Berpikir tentang nikmat membuat kita bersyukur,’’ terangnya.

Lalu berpikir tentang azab Allah SWT. Api neraka yang paling ringan, ketika sedikit saja mengenai telapak kaki, maka otak di kepala langsung mendidih.

Di kubur juga ada siksa yang menakutkan dalam kegelapan, kesendirian dan kesempitan. Di dunia juga ada banyak siksa yang disegerakan.

Tidak menunggu di kubur atau di akhirat, tapi azabnya diberikan kontan di dunia.

’’Berpikir tentang azab membuat kita takut sehingga tidak berani maksiat,’’ bebernya.

Baca Juga: Binrohtal 2.073, Terus Beribadah dan Meninggalkan yang Haram

Kita tidak boleh berpikir tentang orang yang menzalimi kita. ’’Tidak boleh berpikir membalas dendam. Karena hal itu akan membuat hati menjadi gelap,’’ tegasnya.

Hati gelap menyebabkan sulit menerima nasihat. Serta selalu ditimpa kesusahan.

’’Kita jangan terus memikirkan kekurangan. Karena masih banyak orang yang lebih kurang dari pada kita,’’ tegasnya. Orang yang terus memikirkan kekurangan, hidupnya akan miskin.

Mbah Bolong lalu cerita wali Allah bernama Dzunnun Al-Mishri. Suatu hari, dia mengajak anak perempuannya ikut memancing.

Tiba-tiba putrinya mengingatkan kepada ayahnya yang sufi, 'alim, dan muhadits, bahwa ikan yang ada di sungai selalu bertasbih kepada Allah SWT.

Kalau sampai ikan tersebut diambil, disembelih lalu dimakan, maka mereka akan berhenti berzikir kepada Allah SWT.

Akhirnya, Dzunnun Al-Mishri mengiyakan perkataan anaknya, lalu pulang tanpa membawa ikan.

Sejak saat itu, Dzunnun Al-Mishri 'pensiun' menjadi pemancing dan selalu bertawakal kepada Allah SWT.

Tentu saja setelah melakukan usaha tanpa mengganggu makhluk Allah SWT yang ada di muka bumi.

Akhirnya, Allah SWT membalas Dzunnun Al-Mishri dan putrinya itu dengan makanan surga.

Setiap Magrib, selalu datang pasukan elite yang membawa makanan super lezat. ’’Ini makanan dari Sang Raja untuk kalian berdua,’’ kata pasukan itu.

Begitu setiap hari selama 30 tahun. Setelah 30 tahun berlalu, putri Dzunnun Al-Misri wafat.

Sejak saat itu, pasukan elite utusan Sang Raja tidak lagi datang membawa makanan ke rumahnya.  Dzunnun  pun menyadari, anugerah itu merupakan karomah dari putrinya. (jif/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#maksiat #Mbah Bolong #berpikir