Surah al-Adiyat, ketika membahasakan manusia sebagai pecinta duniawi terunggah tiga gaya taukid beruntutan.
Pada tiga ayat berurutan, yakni: ’’Inn al- insan li Rabbih lakanud.’’ Wa innah ‘ala dzalik lasyahid’’ dan ’’wa innah lihubb al-khair lasyadid.’’
Diawali dengan huruf taukid (inn), kemudian isi pesan, lalu diakhiri dengan ’’Lam’’ (Lakanud, Lasyahid, Lasyadid) pada posisi khabar yang berfungsi taukid pula.
Itu artinya, pesan-pesan tersebut sangat serius dan sangat penting diperhatikan.
Gampangnya, seneng duit itu wajar sebagai manusia. Tapi kalau kebangetan, maka arahnya bisa terjerumus ke ’’kanud.’’
Kanud, dalam tradisi Arab dipakai wadanan, sebutan buruk bagi orang yang sukanya makan sendirian. Alias pelit banget, mangan gak towo-towo dan sama sekali tak suka berbagi.
Di negeri ini, solidaritas tinggi dan biasa berbagi sesama kawan ada pada komunitas perokok.
Perokok memang ’’bebal’’ dan tidak mempedulikan kesehatan lingkungan. Tapi solidaritas bahkan tidak malu meminta rokok kepada teman, meskipun enggan meminta uang.
Pada komunitas perokok, terbiasa seseorang meletakkan bungkus rokok di atas meja dalam sebuah majelis.
Pertanda dipersilakan buat siapa saja yang berkenan mengotori parunya dan merusak jantungnya. Seorang teman bertanya, sedekah rokok itu dapat pahala apa tidak ya..?
Teman sebelah menjawab ketus: ’’Dapat neraka. Lha wong Gusti Allah membuat paru, jantung begitu bagus, bersih, lha kok dikotori nikotin. Begini saja: Andai kamu sendiri yang menjadi Gusti Allah, melihat ulah perokok dekil begitu itu, kira-kira, rela atau kecewa..?’’
Baca Juga: THE HORSE (21)
Pembicaraan yang menegang itu perlahan digiring ke ngaji lagi. Bahwa konsekuensi bakhil adalah kafir, kanud.
Manusia macam ini biasanya tidak pandai bersyukur, tidak pandai berterima kasih. Maunya menerima saja tanpa mau berderma.
Nasihat agama didengar, diamalkan, tapi kalau menyangkut uang, sedekah, bersosial, wah.. nanti dulu.
Padahal, dalam Alquran disinggung istilah ’’itsar.’’ Wa yu’tsirun ‘ala anfusihim walaw kan bihim khashasahah (al-Hasyr 9).
Yaitu, mengutamakan orang lain, mengalahkan diri sendiri. Obyek itsar ada dua: duniawi dan ukhrawi.
Pada urusan duniawi, itsar berhukum sunah. Sebaliknya, pada urusan ukhrawi berhukum makruh.
Misalnya, anda mendapat proyek, sementara teman anda sudah lama menganggur dan sepi. Kemudian proyek itu anda berikan ke teman atas dasar lillah ta’ala.
Waw..Tuhan dan masyarakat langit tersenyum mengagumi Anda.
Baca Juga: THE HORSE (18)
Pintu surga langsung untuk anda. Percayalah, Tuhan pasti mengganti dengan rezeki lebih hebat.
Ada itsar kecil dan sering tidak diperhatikan orang, yakni ketika kita berkendara di jalanan.
Ada mobil yang nampak tergesa-gesa ingin mendahului. Barang kali dia lebih diburu waktu, ada hajat sangat penting dan mendesak ketimbang kita.
Maka beri jalan jika mungkin. Itu amal berpahala. Utamanya ambulan dan mobil pemadam kebakaran.
Mungkin ada ambulan kosong, sementara si sopirnya membunyikan sirine keras- keras agar mendapat prioritas di jalan raya. Maka dia adalah sopir zalim, berdusta dan berdosa.
(bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Achmad RW