JOMBANG - Mudir Ma’had Aly Tebuireng KH Achmad Roziqi, menjelaskan pentingnya sabar menghadapi musibah.
Hal itu disampaikannya saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (9/11).
’’Musibah adalah tanda cinta Allah SWT kepada hambaNya sekaligus pintu untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah,’’ tuturnya.
Sudah menjadi sunnatullah, dalam menjalani hidup di dunia ini, disamping mendapatkan beragam kenikmatan, kita juga akan merasakan musibah.
Ada sakit disela-sela kesehatan yang kita nikmati. Ada susah disela-sela kebahagiaan yang kita nikmati. Pasti.
’’Kita semua pasti diuji dengan musibah, meskipun sedikit,’’ ucapnya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Baqarah 155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Di awal ayat ini ada qosam (sumpah), taqdirnya adalah Wallahi; Demi Allah. Sehingga bisa dipahami, bahwa Allah pastilah akan menguji kita.
Lalu, muncul di benak kita sebuah pertanyaan; Kenapa Allah SWT menguji kita? Apakah Allah SWT tadak sayang lagi?
Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Musibah adalah tanda cinta Allah SWT kepada hambaNya sekaligus pintu untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca Juga: Binrohtal 2.067, Keutamaan Membaca Basmalah
Musibah adalah pintu menuju keridaan Allah SWT asalkan kita juga rida atas musibahnya.
Secara umum, bisa dipahami bahwa musibah adalah bukti Kecintaan Allah kepada hambaNya.
Kalaulah cinta Allah SWT belum bisa kita rasakan manisnya, untuk mengurangi rasa sakit yang kemudian melahirkan keluh kesah atau bahkan ketidaksabaran akan musibah yang dialami, kita diajari oleh ayat di atas.
Sesungguhnya musibah yang kita alami jika dibandingkan dengan nikmat yang sudah kita terima pastilah nikmat lebih besar dibanding musibah.
Isyarah ini disampaikan oleh Al Imam Al Akbar ketika menafsiri kata "Bisyaiin" dalam ayat di atas. Tanwin dalam kata "Syaiin" menunjukkan makna taqlil; menunjukkan arti sedikit.
Sehingga musibah yang disebutkan dalam ayat tersebut hanyalah sedikit.
Rasulullah mengajari kita, musibah yang ada sekecil apapun itu sesungguhnya Allah SWT akan meninggikan derajat kita dan menghapus kesalahan.
Nabi bersabda; Seorang mukmin yang terkena musibah meskipun hanya tertusuk duri, dengan itu akan membuat derajatnya diangkat. Atau dosanya dihapus.
Dengan adanya musibah, kita sedang mendapatkan dua nikmat besar. Yakni mendapat pahala dan dijauhkan siksa. Maka kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah SWT.
“Jika kesusahan bukan merupakan nikmat terbesar, mengapa Allah memberikannya kepada mereka yang paling dicintai-Nya, para Nabi?” (Ibnu Arabi)
Rasulullah bersabda; Dan sesungguhnya apabila Allah SWT mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. ’’Para nabi,’’ begitu jawab Nabi ketika ditanya siapa yang paling berat ujiannya.
Padahal mereka semua makhluk terkasih Allah SWT. Ini mengingatkan kita, kesulitan seberat apapun yang sedang kita hadapi, boleh jadi karena Allah begitu sayang kepada kita.
Allah SWT tak rida kita keluar dari rel-Nya. Juga menginginkan kita untuk senantiasa mendekat kepada-Nya. (jif/riz)
Editor : Achmad RW