Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

THE HORSE (23)

Achmad RW • Jumat, 10 November 2023 | 14:25 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Wa innah lihubb al-khair lasyadid. Uang itu menggiurkan.

Sampai ada yang maling, yang melacur, yang menipu mendapatkan uang.

’’Memang uang bukan segalanya, tapi segalanya memerlukan uang.’’

Di kehidupan kita, ada si Fulan yang ditakdir kaya raya dan ada si Rajul ditakdir miskin. Semua itu kebijakan Tuhan dan sangat tepat.

Si Fulan, memang potongannya berduit sejak lahir. Ibadahnya lancar dengan banyak uang. Bisa haji, umrah dan banyak sedekah.

Andai dia ditakdir miskin, maka sudah pasti nyungsep dan nyonyor. Karena dia tidak mampu diuji kemiskinan.

Tinggal dia, mau dipakai membooking surga atau neraka dengan uangnya itu.

Orang yang hidupnya serba enak, duitnya banyak, sehat, tidak ada musibah berarti, itu namanya ’’ahl al-‘afiyah.’’

Si Rajul, memang sejak dulu potongan melarat. Tapi kehidupaan dan ibadahnya berjalan bagus.

Tentu tidak leluasa beramal, tidak bisa haji dan tidak banyak bersedekah. Andai dia ditakdir kaya raya, bisa jadi dia langsung durhaka, lalu nyungsep dan celaka.

Ya, karena dia tak mampu diuji dengan kenikmatan.

Baca Juga: THE HORSE (19)

Orang yang hidupnya serba tidak enak, kekurangan, melarat, sakit-sakitan itu disebut ’’ahl al-mushibah.’’ Modalnya hanya satu, yakni: bersabar, titik.

Ahl al- mushibah ini di akhirat nanti paling dimanjakan Tuhan. Karena pahala bersabar jauh lebih besar ketimbang pahala sedekah.

Terserah si Rajul, mau ke neraka atau ke surga dengan takdir melaratnya itu.

Pada surah al-Takatsur, malah disindir, bahwa manusia itu dalam memburu harta sampai kayak perlombaan.

Mereka tidak akan berhenti sampai ’’zurtum al- maqabir’’, masuk di liang kubur, alias mati. Mereka mengukur apa-apa dengan uang.

Bahkan mengukur baik dan tidaknya manusia juga dengan uang.

Sama-sama ada undangan pernikahan. Jika yang mengundang itu orang kaya, maka perhatiannya lebih.  Kalau yang mengundang orang miskin, maka seenaknya.

Bahkan dalam hal memberi buwuhan atau amplop. Kepada orang gedean, amplopnya disisi gede. Kepada orang miskin, seenaknya.

Bahkan dalam mengukur baik dan tidak seseorang, acap kali menggunakan tolok ukur uang, yakni memberi atau tidak.

Jika si Fulan sering memberi dia uang, maka dia menganggap si Fulan orang baik, diakrabi, disanak-sanak, meskipun akhlaknya bejat.

Tapi kalau tidak pernah memberi uang, maka diabaikan, meskipun akhlaknya bagus.

Perhatikan warning Nabi Muhammad SAW terhadap walimah atau resepsi pernikahan. Bahwa, makanan terburuk adalah makanan yang tersaji pada acara walimah.

Yang kaya diundang dan yang miskin diabaikan. Ayat kaji ini menegur agar tidak kebangetan mencintai uang. (bersambung, in sya’ Allah)

Editor : Achmad RW
#kaya #Tafsir Kontemporer #miskin #Uang #KH Mustain Syafii