JOMBANG - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin.
Terutama tentang pentingnya iman dalam keadaan apapun.
’’Bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,’’ tuturnya mengutip Daniel 3:18.
Untuk apa kita beriman? ’’Supaya kita mengalami mukjizat Tuhan.’’
’’Supaya setiap kali berdoa, Tuhan mengabulkan doa kita.’’ ’’Supaya Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi kita dari bahaya.’’
’’Supaya kalau ada masalah, Tuhan segera menolong.’’ Ungkapan-ungkapan tersebut kedengarannya sangat baik.
Namun sebetulnya, itu mencerminkan pendangkalan makna. Kalau kita bekerja supaya mendapatkan upah, itu wajar.
Akan tetapi kalau kita beriman supaya mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, itu menunjukkan iman yang tidak tulus, berpamrih dan kekanak-kanakan.
Iman yang dewasa seperti juga cinta yang dewasa. Selalu berarti tanpa syarat, tanpa pamrih.
Bukan supaya, supaya mendapat ini dan itu yang kita mau. Tetapi sekalipun, sekalipun hidup tidak berjalan seperti yang kita harap, tapi tetap percaya.
Iman ’’sekalipun’’ (dewasa) ini ditunjukkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
Ketika Raja Nebukadnezar membuat patung emas besar dan memerintahkan semua orang yang hidup di wilayahnya untuk menyembah patung itu, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak mengikuti perintah tersebut.
’’Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu dan dari dalam tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,’’ begitu mereka menjawab (Daniel 3:16-18).
Akibatnya, mereka harus berhadapan dengan hukuman dimasukkan dapur api yang menyala-nyala.
Akan tetapi Tuhan tidak meninggalkan mereka. Mereka dilindungi oleh Tuhan dan diluputkan dari perapian yang menyala-nyala.
Bagaimana dengan kita, disaat dalam kesulitan, ditolong atau pun belum ditolong masihkah kita tetap percaya pada Tuhan?
Iman "sekalipun" menunjukkan iman yang dewasa, tidak tergantung pada situasi dan kondisi.
’’Iman yang dewasa tetap percaya sekalipun harus menderita karena kebenaran. Tuhan Yesus memberkat,’’ tegasnya. (jif/riz)
Editor : Achmad RW