JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (25/9), Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang, Habib Muhammad bin Salim, menjelaskan kiat dicintai oleh Allah SWT dan manusia.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu,’’ tuturnya.
Orang zuhud jika mendapat nikmat, ia bersyukur. Dan jika ditimpa musibah, ia bersabar.
Orang zuhud senantiasa mendapati hidupnya dalam ketenangan. Dunia adalah fana, sedangkan akhirat abadi.
Seorang hamba yang zuhud menyadari bahwa rezeki setiap hamba telah ditetapkan di sisi-Nya.
Rezeki tidak akan bertambah atau berkurang, sekalipun kita mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal.
Orang yang mampu bersikap zuhud di dunia tidak akan menghalalkan segara cara untuk mendapatkan kenikmatan dunia yang fana.
Orang yang zuhud di dunia tidak akan mengambil hak orang lain, tidak korupsi, tidak mencuri, tidak curang dan tidak berdusta untuk mendapatkan kenikmatan dunia.
Orang zuhud tidak menginginkan sesuatu yang berlebih-lebihan.
Alkisah, Umar bin Khattab pernah mendatangi rumah gubernur Syam, Abu Ubaidah bin Jarrah.
’’Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu?’’ tanya Umar.
Baca Juga: Binrohtal 2.054, Jujur dan Kebaikannya Bagi Manusia
Jawab Abu Ubaidah, ’’Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.’’
Namun Umar memaksa. Akhirnya, Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya.
Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.
Umar bertanya, ’’Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?’’
’’Adakah kau memiliki makanan?’’ tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang untuk memasak.
Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu.
Abu Ubaidah pun berujar, ’’Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi, bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.’’
Umar berkata, ’’Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.’’
Suatu ketika, Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar.
Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, ’’Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu.’’
Umar berujar, ’’Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.’’
Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya.
Baginya, jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW