Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.054, Jujur dan Kebaikannya Bagi Manusia

Rojiful Mamduh • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 14:33 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (5/10), Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya jujur.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan ke surga,’’ tuturnya.

Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. "Sebaliknya, hati-hatilah kalian dari berbuat dusta," lanjutnya.

Karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka.

Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta. ’’Kejujuran itu modal yang paling penting,’’ terangnya.

Gus Fahmi lantas mencontohkan Nabi Muhammad SAW. Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad sudah dikenal sebagai orang yang jujur.

Makanya dijuluki al amin, orang yang dapat dipercaya. Kejujuran itu membuat Nabi sukses dalam bisnis.

Sampai-sampai saudagar kaya bernama Khodijah percaya kepadanya.

Tugas bisnis yang diberikan Khodijah kepada Nabi selalu untung dan dijalankan dengan jujur.

’’Orang yang jujur akan dicintai manusia dan dicintai oleh Allah SWT,’’ tegasnya.

Gus Fahmi lalu cerita pemuda bernama Mubarak. Ia bekerja di perkebunan seorang saudagar kaya raya di Khurasan.

Baca Juga: Binrohtal 2.051, Inti Peringatan Maulid Nabi

Suatu hari, tuannya melihat-lihat perkebunannya. Tuannya itu ingin makan buah delima hasil kebunnya.  ’’Tolong petikkan aku sebuah delima,’’ kata tuannya itu.

Mubarak langsung bergegas mencari pohon delima dan memetik buahnya.

Kemudian menyerahkan kepada tuannya. Saat dimakan, tuannya kaget. Delima yang dikunyah terasa kecut. Maka marahlah tuannya.

’’Hei Mubarak, aku minta buah delima yang rasanya manis, mengapa kamu berikan yang kecut. Ambilkan yang manis!’’ hardiknya.

Mubarak kemudian pergi lagi dan memetik delima dari pohon yang lain. Delima itu diserahkan kepada tuannya.

Ternyata rasa yang didapat sama. Kejadian tersebut berlangsung hingga tiga kali.

’’Kecut lagi. Kecut lagi. Apakah kamu tidak bisa membedakan antara buah delima yang manis dan kecut,’’ tanya tuannya dengan marah besar.

Mubarak kemudian menjawab, ’’Tidak.’’

’’Kenapa kamu tidak bisa membedakan delima yang manis dan kecut?’’ tanya tuannya.

’’Saya belum pernah makan delima apalagi delima yang ada di kebun tuan. Saya tidak tahu rasa delima,’’ jawab Mubarak dengan rasa takut.

’’Lho, kenapa kamu tidak mencicipinya. Padahal disini banyak delima yang bagus dan enak rasanya?’’ tanya tuannya dengan perasaan kesal sekaligus heran.

’’Tuan belum memberikan izin saya untuk memakan buah delima yang ada di kebun ini,’’ jawab Mubarak.

Baca Juga: Binrohtal 2.048, Salawat Bentuk Tanda Cinta

Mendengar perkataan itu, tuannya terdiam dan merenungkan ucapan Mubarak.  Setelah beberapa lama, akhirnya tuan itu menyadari kejujuran Mubarak.

Mubarak kemudian dinikahkan dengan putrinya. Dari perkawinan tersebut lahirlah anak laki-laki, Abdullah.

Putra Mubarak ini kemudian masyhur sebagai ulama dan sufi besar bernama Abdullah bin Mubarak. (jif/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#jujur #polres jombang #Binrohtal #masjid