JOMBANG - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya iman.
”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat,” tuturnya mengutip Ibrani 11:1.
Berbicara tentang perjalanan iman, kita dapat belajar dari Abraham, bapak orang beriman.
Abraham diperintahkan Tuhan untuk pergi ke negeri asing. Saat itu, ia berusia 75 tahun dan tinggal di Ur-Kasdim.
Lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan orang kafir, di mana keluarganya melayani allah lain.
Suatu saat Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dan memberinya janji.
"Aku akan menjadikanmu bangsa yang besar, dan Aku akan memberkatimu dan membuat namamu besar, sehingga kamu akan menjadi berkat" (Kejadian 12:2).
Kita tahu Abraham taat dan melakukan perjalanan yang diperintahkan Tuhan.
Ia percaya Tuhan akan memberinya tanah dan akan membuat namanya besar, serta jadi berkat.
Tetapi, kita juga tahu, setelah Abraham menaati perintah Tuhan, ia tidak segera menikmati janji Tuhan.
Saat ia tidak melihat apa yang dijanjikan Tuhan terjadi dalam hidupnya, Abraham bisa saja kembali ke Ur, tetapi ia tidak melakukannya.
Abraham tetap percaya kepada Tuhan dan terus melakukan perjalanannya.
Ini semua dilakukannya karena ia percaya Tuhan mempersiapkan baginya kota yang memiliki dasar, sebuah kota yang tidak dapat binasa, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).
Ia percaya Tuhan memenuhi janji-Nya dalam kerangka waktu Tuhan. Karena imannya, Abraham taat kepada Tuhan sampai akhir hidupnya.
Sebagai orang percaya, kita pun dipanggil untuk melakukan perjalanan meninggalkan Ur Kasdim kita masing-masing.
Ur Kasdim kita mungkin adalah dosa yang mengikat kita. Ur Kasdim kita mungkin zona nyaman.
Kita perlu meninggalkan itu semua agar kita dapat menjawab panggilan Tuhan untuk hidup kita.
Kita harus melangkah dari tempat kita saat ini ke tempat yang Tuhan tunjuk.
Perjalanan iman kita yang dimulai, ditandai, dan dilanjutkan dengan ketaatan (Ibrani 11:8).
Kita mungkin lebih suka berdiam di Ur karena tidak jarang kita harus melangkah ke tempat yang tidak kita ketahui, dan itu menakutkan.
Tetapi sekali lagi, iman yang sejati adalah ketaatan. Jangan menyerah, walau dalam perjalanan ada banyak masalah yang membuat kita frustrasi, kesal, ditertawakan, atau diperlakukan dengan buruk.
Seperti Abraham, mata kita tertuju kepada janji Tuhan yang disediakan di akhir perjalanan kita.
Hari ini, mari belajar dari kehidupan Abraham, yang tidak akan menyesal ketika ia melihat kembali perjalanan yang dijalaninya.
Mempercayai dan taat kepada Tuhan seperti Abraham, dan fokus kepada tujuan dari perjalanan iman kita.
”Janji Tuhan pasti digenapi. Tuhan Yesus memberkati,” tegasnya. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW