JOMBANG - Saat pertama kali dibangun, Masjid Ar Rahman di Desa Pulorejo, Ngoro, Jombang ini tidak semegah saat ini.
Sebelum dilakukan renovasi pada 2014 lalu, bangunan masjid sangat kental nuansa masjid Jawa, dan berukuran lebih kecil.
Seiring perkembangan bangunan masjid menjadi lebih besar, jumlah jamaah juga terus bertambah.
”Bangunannya dulu tidak seperti sekarang. Dulu kecil karena jamaahnya sedikit juga,” kata Bhatoro Sino, ketua takmir Masjid Ar Ahman.
Terlebih lagi, di wilayahnya tersebut, dulunya banyak warga yang enggan ke masjid.
Sino juga menyebut, banyak orang-orang di sekitar masjid dulunya suka minum juga berjudi.
"Untuk itu kami ingin mengubahnya tanpa harus melarang. Intinya dulu itu warga keluar pakai sarung ditertawakan. Sekarang keluar tidak pakai sarung malu,” bebernya.
Ia menceritakan, pada saat pembangunan dulu banyak kendala. Bahkan, pembangunan sempat terhenti selama dua bulan.
”Banyak ceritanya dulu, sampai-sampai pembangunan sempat terhenti,” ungkapnya.
Meski begitu, dirinya dan warga lainnya tetap berusaha untuk melanjutkan pembangunan masjid tersebut.
”Alhamdullilah sekarang jama’ahnya semakin banyak,” pungkasnya.(yan/naz/riz)
Editor : Achmad RW