Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

THE HORSE (19)

Achmad RW • Jumat, 29 September 2023 | 13:33 WIB

Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Inn al-insan liRabbih lakanud. Seperti diunggah sebelumnya, bahwa kata ’’kanud’’, sisi makna lebih parah ketimbang ’’kafur’’.

Selain ingkar, pelit, bakhil juga ada upaya untuk mengamankan sifatnya itu. Seperti tertutup, menyendiri dan tidak mau berhubungan dengan apa saja yang bisa mengusik kepelitannya tersebut.

Misalnya tidak siap, tidak suka, menghindar bila diajak bicara soal sedekah, kepedulian sosial, menyantuni anak yatim, membangun sarana agama dan sebagainya.

Ada saja alasan menghindar dari tarikan sumbangan. Sudah tahu ada panitia pembangunan datang bertamu, dia malah kabur lewat pintu belakang.

Atau menyuruh pembantu ngomong ke panitia, ’’maaf, bapak gak ada di rumah.’’ ’’Maaf, bapak sedang tidur dan saya tidak berani membangunkan.’’ Dan sebagainya.

Itu orang berdosa ganda. Selain dosa karena ’’kanud’’, berdosa juga karena berbohong.

Ada terma kekufuran yang dialamatkan kepada para wanita atau istri, terkait dengan jasa suaminya.

Diriwayatkan, kelak di akhirat nanti banyak wanita masuk neraka. Atau dengan kata lain, penghuni neraka itu terbanyak dari kalangan para wanita. Hal itu karena mereka hobi ’’berkufur.’’

Ketika ditanyakan: ’’Ya Rasulallah, apakah mereka berkufur kepada Tuhan?’’

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menjawab: ’’Tidak. Mereka justru beriman, mengerjakan salat, puasa dan sebagianya.

Kekufuran para wanita itu adalah mengingkari, tidak menghargai, tidak berterima kasih terhadap pemberian suaminya.’’

Jika sabda Rasulullah SAW itu diterjemah, kira-kira begini: Wanita itu adalah istri yang moto duwiten. Yang ada diotaknya hanyalah uang dan uang yang banyak.

Jika uang belanja kurang sedikit saja, maka dia mecucu dan muram. Tapi kalau uang belanja berlimpah, gelenggem dan diam, tidak pernah mau berucap ’’terima kasih’’ kepada suaminya. Inilah sosok istri yang ’’kanud’’.

Lalu adakah seorang suami yang ’’kanud’’ terhadap istrinya?

Lebih dahulu, perhatikan syari’ah Islam tentang kewajiban seorang suami dalam urusan rumah tangga.

Pada dasarnya, semuanya kewajiban suami, termasuk memasak, mencuci dan sebagainya.

Kewajiban seorang istri sesungghnya hanya satu, yaitu memberi layanan terbaik terhadap suaminya, utamanya di adegan ranjang.

Jika servis ini tidak dipenuhi tanpa alasan yang dibenarkan agama, maka gugur hak dia menerima nafkah. Suami tidak berdosa memblokir uang belanja hari itu.

Tapi jangan dilakukan, kasihan. Tidak hanya itu, malaikat langit podo mengutuk dia semalaman, sampai dia meminta maaf atau sang suami rela.

Nyatanya, kehidupan kita sehari-hari..? Yang memasak malah sang istri. Bahkan yang mencuci dan bersih-bersih.

Pernahkah kita berucap terima kasih ketika selesai menikmati masakan istri..? Jika menafikan, apalagi mencaci, maka itu namanya suami yang ’’kanud’’ terhadap istrinya.

(bersambung, in sya’ Allah).

Editor : Achmad RW
#The Horse #kepedulian #istri #KH Mustain Syafii