Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Toriqoh 263, Ini Etika Saat Menjenguk Orang Sakit Seperti Dicontohkan Rasulullah

Rojiful Mamduh • Selasa, 5 September 2023 | 14:10 WIB

 

Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan

JOMBANG - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan etika menjenguk orang sakit. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

’’Para sahabat itu bisa niteni kondisi orang sakit yang dijenguk nabi,’’ tuturnya.

Jika nabi menyarankan agar orang yang sakit bersabar, maka para sahabat paham, sakit orang itu bisa sembuh.

Tapi jika nabi menasihati agar orang yang sakit banyak baca istigfar, para sahabat tahu, orang itu akan meninggal dunia.

’’Ini karena nabi selalu menasihati agar sabar kepada orang sakit yang masih bisa sembuh. Dan menasihati agar banyak baca istigfar pada orang sakit yang akan wafat,’’ terangnya.

Orang sakit yang sabar dan banyak baca istigfar, dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga ketika wafat dicatat syahid akhirat.

’’Makanya ketika sakit tak boleh mengeluh. Tak boleh protes. harus sabar,’’ sarannya.

Rasulullah bersabda; Allah SWT mengambil empat hal dari orang sakit. Kekuatannya, keceriaan wajahnya, kenikmatan makannya dan dosa-dosanya.

Ketika sembuh, Allah SWT mengembalikan kekuatan, keceriaan dan kenikmatan makannya. Namun dosa-dosanya tidak dikembalikan. Ini dengan catatan dia sabar.  

Sabar itu tiada batasnya. Makanya pahalanya juga tiada batas alias tak terhingga.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Azzumar 10. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang diberi pahala tanpa batas.

Nabi bersabda; Siapa yang menjaga istigfar, maka Allah SWT akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Imam Ahmad bin Hanbal ra yang dikenal sebagai imam Hanbali pernah bercerita. Suatu ketika saat sudah tua, saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke kota Bashrah di Irak.

Padahal tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Tiba di sana waktu Isya.

Dia ikut berjamaah di masjid. Usai salat, imam Ahmad ingin tidur di masjid. Tiba-tiba marbot masjid datang mengusirnya. ’’Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.’’

Imam Ahmad didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid.

Dia lantas berbaring di teras masjid. Namun marbotnya datang lagi, marah-marah. ’’Tidur di teras masjid juga tidak boleh.’’

Imam Ahmad didorong-dorong sampai jalanan. Di samping masjid ada penjual roti. Saat imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil. ’’Mari syeikh, anda boleh nginap di tempat saya.’’

Penjual roti itu terus membaca istigfar selama membuat adonan roti. Lalu imam Ahmad bertanya; Sudah berapa lama kamu lakukan ini?

Orang itu menjawab; Sudah 30 tahun, sejak saya menjual roti. Imam Ahmad bertanya lagi; Apa hasilnya?

’’Lantaran wasilah istigfar, semua hajat yang saya minta, pasti dikabulkan Allah SWT. Kecuali satu.’’ Yakni keinginannya supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.

Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir; ’’Allahu akbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad ke Bashrah bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu ke jalanan karena istigfarmu’’.  Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah imam Ahmad. (jif/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#Menjenguk #Toriqoh #Orang Sakit #etika