Fa al-mughirat shubha. Sumpah Tuhan menggunakan kuda yang menyerang musuh pada waktu subuh. Ada dua kata yang nampak penting pada ayat ini. Pertama, al-‘mughirat. Penyerangan dengan tiba-tiba dan penuh tipu daya. Dan kedua, shubha, dilakukan pada waktu Subuh, pagi hari.
Tesis ini untuk situasi perang. Di mana dalam pertempuran itu semua kekuatan fisik maupun otak diadu. Adu senjata dan adu kelihaian. Tipu muslihat dibolehkan demi menguasai keadaan.
Seperti permainan catur, yang diadu adalah kepintaran pecatur dalam membunuh raja lawan. Siapa duluan yang bisa menciptakan skak mat, dialah pemenangnya. Duluan itulah makna ’’shubha’’, waktu pagi, waktu awal.
Semua cara dihalalkan, apakah dengan cara menipu dan membuat jebakan, atau mengorbankan beberapa perwira. Yang penting, menang. ’’Al-mughirat” memberi inspirasi bagi semua permainan yang berskor kalah atau menang, yakni ’’menyerang.’’
Bahkan menyerang dengan tiba-tiba, di mana musuh tidak pernah membayangkan adanya serangan tersebut dan tidak pula pernah menduga. Al-mughirat. Dalam bertinju, ada teknik menyerang dan ada teknik bertahan.
Tapi kata ahli: menyerang itu pertahanan paling baik. Dalam pertandingan, badminton, misalnya-, kalau bertahan terus, lalu kapan menangnya. Kecuali musuhnya goblok, maka cukup ditahan saja, nanti dia lemes sendiri.
’’Al-mughirat’’ juga mengandung ajaran membuat konsep dan perencanaan yang lebih matang sebelumnya. Dengan konsep yang matang, maka penyerangan pagi hari bisa dilakukan.
Dan hasilnya pasti gemilang, karena musuh belum siap. Itulah hikmah melakukan sesuatu di waktu Subuh.
Pemeo rakyat Mexiko mengatakan: ’’Burung yang datang pagi di persawahan akan menguasai medan.’’ Sama dengan pengusaha yang datang duluan di pasar, maka dia yang paling berpeluang mendapat untung banyak.
’’Shubha,’’ Subuh, pagi hari, awal kehidupan dan awal aktifitas. Era digital begini pembuktian atas kebenaran siratan ayat ini lebih nyata. Era, di mana manusia bebas berkreasi. Kreasi yang menguntungkan, kreasi yang menghasilkan uang.
Siapa yang punya ide brilian, bisa menciptakan aplikasi ini dan itu, mudah dan murah, maka dia yang bakalan menjadi kaya raya.
Perhatikan anak-anak muda di dunia maya. Sekedar bikin konten-kontenan saja bisa menghasilkan uang. Belum lagi si pemilik Google, i-Phone dan lain-lain. Hak cipta yang dipatenkan adalah harta yang bisa diwariskan. Jauh lebih berharga ketimbang sebidang sawah. Itulah makna ’’shubha,’’ berkreasi, kreatif.
Para penemu listrik pertama, seperti Michael Faraday,Brainly, Thomas Alva Edison bukan main jasanya untuk umat manusia. Ilmu kelistrikannya mendunia.
Andai mereka muslim, pasti masuk surga karena ilmunya bermanfaat bagi dunia. Bisa-bisa melebihi manfaatnya kitab Fathul Qarib. Ya, tapi beda. (bersambung, in sya Allah).
Editor : Achmad RW