Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Toriqoh 253 , Kaya Hati dan Ilmu Tirakat

Rojiful Mamduh • Selasa, 27 Juni 2023 | 15:50 WIB

 

Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan
Rubrik Toriqoh oleh KH Cholil Dahlan

JOMBANG - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan ada empat hal yang dianggap orang banyak bisa didapatkan dari empat hal. Namun kenyataannya, justru bisa diperoleh dari empat hal lainnya.

’’Orang menyangka bisa menjadi kaya dengan banyak harta. Namun kenyataannya, yang membuat kaya adalah qanaah,’’ tuturnya mengutip maqolah ke-29 bab empat Nasoihul Ibad.

Keinginan manusia terhadap harta tak ada habisnya. Ibarat air laut, makin diminum justru akan semakin haus. Sampai-sampai Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memberi gambaran; Seandainya manusia memiliki satu lembah emas, pasti tetap ingin punya yang kedua.

Seandainya punya dua lembah emas, pasti tetap ingin punya yang ketiga. Demikian seterusnya. Manusia tak akan pernah merasa cukup hingga mulutnya disumpal dengan tanah kuburan.

Satu-satunya yang bisa membuat manusia kaya yakni hati yang qanaah alias nerimaan. Ketika menginginkan sesuatu lalu tak bisa mendapatkannya, kemudian hatinya qanaah, maka dia tak akan mengeluh.

Ketika diberi Allah SWT rezeki sedikit lalu hatinya qanaah, maka dia akan merasa cukup. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Kaya yang sejati bukanlah kaya harta, tetapi kaya hati yakni qanaah.

’’Orang menyangka bisa mendapatkan ilmu dengan kenyang. Kenyataannya, ilmu justru bisa masuk dengan lapar,’’ tuturnya.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Cahaya kearifan adalah lapar, menjauh dari Allah adalah kenyang, mendekati Allah ialah mencintai fakir dan miskin dan akrab dengan mereka.

Ilmu itu cahaya. Lapar juga cahaya. Maka ilmu akan lebih mudah masuk ketika kita sedang lapar. Inilah sebabnya, para santri membiasakan puasa di pesantren. Dengan puasa, maka belajar lebih mudah masuk. Menghafalkan Alquran, hadis, maupun nadzom juga lebih gampang.

 ’’Belajar tidak usah menunggu kenyang. Dalam kondisi puasa, belajar malah lebih mudah,’’ saran Kiai Cholil. Justru kondisi kenyang itu sulit dibuat belajar. ’’Kalau sudah kenyang, biasanya ngantuk,’’ terangnya.

Orang menyangka hidup enak itu dengan kenikmatan-kenikmatan. Tapi kenyataannya, hidup enak itu justru ada pada badan yang sehat. Orang menyangka makan nikmat itu makan sate. Padahal orang yang sakit kolesterol dan darah tinggi justru takut makan sate.

Orang mengira minum enak itu es yang manis. Namun orang diabetes justru takut minum manis. Kenyataannya, makan minum apapun itu nikmat ketika badan sehat.

Orang mengira mencari rezeki itu di bumi. Padahal kenyataannya, rezeki itu sudah dibagi di langit. Sehingga dalam ihtiar mencari rezeki, tidak cukup hanya dengan bekerja. Tapi juga harus dibarengi dengan berdoa.

Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati. Jika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka mudah qanaah, senang puasa, juga selalu memperbanyak doa terutama di 10 awal bulan Zulhijjah seperti sekarang ini. "Juga ringan berkurban setiap tahun karena amal yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dalam Hari Raya Idul Adha adalah berkurban," pungkasnya. (jif/riz)

 

Editor : Achmad RW
#KH Cholil Dahlan #ceramah #Jombang #Toriqoh #Pengajian