Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masjid Tua di Megaluh Jombang ini Jadi Saksi Perjuangan dan Syiar Islam

Achmad RW • Jumat, 9 Juni 2023 | 14:20 WIB
Bangunan masjid Jami
Bangunan masjid Jami
JOMBANG - Masjid Jami’ Baiturrohim yang terletak di Dusun Dempok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Megaluh merupakan salah satu masjid tua di Jombang. Sejak didirikan sekitar 1921, Masjid Baturrohim menjadi salah satu pusat penyebaran dakwah Islam.

”Dulu di sini sudah ada permukiman, tapi masih belum terlalu kental agama Islamnya,” kata Ketua Takmir Masjid Jami’ Baiturrohim Syamsul Maarif.

Syamsul menerangkan, Masjid Jami’ Baiturrohim didirikan KH Sundusin yang merupakan santri Pondok Pesantren Tambakberas. ”Beliau aslinya warga Beratwetan, Kecamatan Gedeg, Kebupaten Mojokerto,” terangnya.

Keberadaan masjid dimanfaatkan KH Sundusin syiar Islam. Salah satunya mengajarkan masyarakat baca Alquran di Dusun Dempok. Saat itu masih banyak masyarakat masih awam terkait agama Islam, termasuk dalam hal baca Alquran. ”KH Sundusin dinikahkan dengan kerabat kiai, dan ditugaskan berdakwah di Dusun Dempok sini, sekarang makamnya ada di belakang masjid,” jelasnya.

Saat awal berdiri, Masjid Jami’ Baiturrohim masih dalam bentuk musala kecil. Ukurannya kurang lebih 10 x 7 meter. Surau tanpa nama yang menjadi pusat belajar Alquran terutama bagi warga Dusun Dempok, Kandangan, Cangkringmalang, dan Dusun Candi.

Masjid Jami Baiturrohim direhab sebanyak tiga kali. ”Yang pertama saya tidak tahu, yang kedua itu 1980, dan yang ketiga 1998 menjelang krisis moneter,” jelasnya.

Masjid baru memiliki nama Baiturrohim tahun 1970-an, ketika mengurus administrasi ke Kantor Kemenag. ”Sebelumnya ya hanya masjid Dempok begitu saja, tidak punya nama,” katanya.

Masjid Jami Baiturrohim kini cukup besar, dengan luas 20x14 meter persegi, memiliki serambi yang luas, dan memiliki atap tumpang khas masjid Jawa. Di ruang utama masjid terlihat empat tiang utama atau soko guru masjid. Pilar-pilar yang tinggi menjulang, menambah kesan mewah pada masjid.

Photo
Photo
ruang dalam masjid Baiturrohim dempok

Banyaknya jendela membuat masjid memiliki pencahayaan yang cukup terang ketika siang. Dasar limas segi delapan membuat kesan masjid yang tinggi dan besar di bagian depan. ”Kalau warna filosofis lain saya rasa tidak ada, cuma dari sisi historis, masjid ini menyimpan banyak cerita,” jelasnya. Sampai saat ini, Masjid Jami Baiturrohim tetap ramai kegiatan. Bahkan dari masjid ini menginisiasi berdirinya PAUD, RA dan MI.

Jadi Persembunyian Tentara, Granat Pernah Meledak

MASJID Jami’ Baiturrohim juga menjadi saksi perjuangan kemerdekaan. Masjid ini menjadi tempat persembunyian para tentara.

”Konon katanya, Dusun Dempok itu ditutupi tabir gaib, sehingga tidak terlihat, makanya jadi tempat persembunyian tentara,” kata Ketua Takmir Masjid Jami’ Baiturrohim Syamsul Maarif.

Dari cerita para sesepuh, Dusun Dempok memiliki keistimewaan, yaitu memiliki tabir ghaib, sehingga para tentara yang bersembunyi dari kejaran Belanda tidak dapat ditemukan. ”Padahal di Dempok termasuk di masjid, banyak sekali tentara yang bersembunyi,” kata Syamsul.

Sisa penjajahan yang terjadi pernah ditemukan pada tahun 1980an. Cucu KH Sundusin menemukan sebuah granat. Bentuknya seperti nanas, dan letaknya di sisi utara masjid. ”Tidak pas masjid, agak ke utara tapi masih lingkungan sekitar masjid,” jelasnya.

Karena saat itu cucu kiai masih kecil, granat dipakai untuk mainan di sisi rumahnya. Salah satu cucu kemudian meninggal, dan dua orang selamat meski sekarang harus cacat karena ledakan tersebut. ”Bukan di sebelah masjid pas meledaknya, jadi masjid tidak rusak. Rumah yang dekat situ ada yang rusak, dan ada yang kakinya cacat sampai sekarang akibat ledakan granat itu,” pungkasnya. (wen/naz/riz) Editor : Achmad RW
#masjid tua #Jombang #Dempok #Megaluh #Sidomulyo #rubrik rumah ibadah #masjid