”Sudah ada sejak saya kecil saat zaman Agresi Militer Belanda II pada 1948 silam,” ujar Sjaichuddin, 81, pengurus Masjid Littaqwa kepada Jawa Pos Radar Jombang di rumahnya, kemarin.
Dari luar, tampak Masjid Littaqwa memiliki satu kubah besar serta halaman cukup luas. Di sejumlah sudut dinding masjid, terpasang roster yang identik dengan ornamen masjid ala Timur Tengah. Selain menampilkan keindahan, roster juga berfungsi sebagai ventilasi udara untuk menjaga sirkulasi udara di dalam masjid selalu segar.
Tak hanya memiliki halaman yang luas, Masjid Littaqwa juga memiliki mihrab yang lebar dan nyaman. Masjid tersebut juga bersih dan rapi sehinga membuat nyaman dijadikan tempat ibadah.
Diceritakan, saat Agresi Militer Belanda II tersebut, dirinya bersama jamaah lainnya melaksanakan salat Idul Fitri. Kala itu, ada tentara Belanda yang berjaga di depan masjid. ”Saya masih ingat, dulu saat saya kenduren usai salat Idul Fitri ada tentara Belanda yang berjaga dengan membawa tembak di punggungnya. Namun mereka hanya memantau aktivitas kami,” kenangnya.
Diceritakan, dulunya Masjid Littaqwa adalah musala yang memiliki luas bangunan sekitar 8 x 8 meter persegi. Terkait kapan didirikannya masjid itu, ia tak mengetahui pasti. Namun diperkirakan sudah ada sejak zaman ayahnya, Nur Salim sekitar 1930 ke bawah. ”Saya lahir 4 Januari 1942 sudah ada musala. Kemungkinan dibangun lebih jauh lagi saat zaman bapak saya,” terang bapak tujuh anak ini.
Musala tersebut, awal kali berubah jadi masjid pada 17 Agutus 1963. Diubahnya dari musala menjadi masjid karena semakin banyaknya jamaah yang ingin salat di masjid tersebut. ”Saya masih ingat betul dulu pertama kali dipakai Jumatan pada 17 Agutus 63 itu,” pungkasnya.
Tiga Kali Direnovasi, Dapat Tanah Wakaf Tahun 1980
MASJID Littaqwa di Dusun/Desa Plandi, Kecamatan Jombang sudah tiga kali dilakukan renovasi. Renovasi besar-besaran dilakukan pada 2018. Saat itu, seluruh bangunan masjid lama dibongkar.
Sjaichuddin, 81, pengurus Masjid Littaqwa menjelaskan, pada 1980 ada warga setempat bernama Abdul Hafid yang menyumbangkan tanahnya untuk perluasan masjid. ”Akhirnya sekarang jadi luas, termasuk halamannya itu,’’ ujar dia.
Masjid ini direnovasi tiga kali. Secara pasti, Sjaichuddin, tak ingat tahun berapa saja masjid itu direnovasi. ”Namun yang jelas terakhir tahun 2018 lalu,’’ papar dia.
Kini, masjid tersebut tak hanya dimanfaatkan kegiatan salat para jamaah, lebih dari itu, ada juga kegiatan pengajian TPQ hingga kegiaran keagamaan warga setempat. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW