Lokasi masjid ini cukup strategis, lantaran berada di samping jalan kabupaten. Dari kejauhan terlihat atap masjid berbentuk tumpang tiga atau identik dengan umumnya bangunan masjid tua di Jawa. Di bagian atas atap, ditambahkan kubah yang ukurannya tidak terlalu besar.
Bangunan Masjid At Taqwa tidak terlalu luas. Luas bangunan sekitar 35x40 meter persegi. Warna masjid didominasi warna hijau putih. Bagian serambi masjid juga tidak terlalu luas.
Bagian dalam masjid dindingnya dari keramik berwarna putih. Ornamen dan kaligrafi juga terpampang di tengah atau area imaman. ”Masjid yang sekarang ini merupakan bangunan baru, bongkarnya Desember 1999. Bangunan yang lama sudah dirobohkan, sudah tidak tersisa lagi. Tinggal sisa keramiknya saja,” kata Abdul Manan salah seorang tokoh agama di desa setempat.
Renovasi masjid juga menyentuh pondasi utama masjid lawasa. ”Dulu masjidnya berdiri di sini, kemudian dibongkar dan digeser agak ke utara,” ujar Manan sembari menunjuk keramik masjid yang tersisa.
Menurut dia, cikal bakal berdirinya masjid itu dulu merupakan langgar panggung. Bangunannya mayoritas dari kayu sehingga untuk masuk ke musala, jamaah harus menaiki anak tangga terlebih dahulu. ”Saya masih ingat waktu masjidnya dari kayu bagian bawah (kolong langgar) biasa dipakai mainan anak-anak,” kata Manan yang kini berusia 80 tahun.
Sayangnya dia tak mengetahui persis sejak kapan bangunan itu didirikan. Namun, warga mempercayai sebelum Indonesia merdeka 1945, langgar di dusun setempat sudah ada. ”Tidak ada yang cerita dibangun atau berdiri tahun berapa, pokoknya sejak mbah-mbah dulu sudah ada, tapi masih dari kayu,” tutur Manan.
Seiring berjalannya waktu, lanjut Manan, dilakukan renovasi pada 1955. Seluruh bangunan dari kayu dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru dari tembok. ”Masuk 1955 itu sudah tidak lagi panggung, dindingnya tembok dan lantainya keramik,” lanjut dia.
Kala itu, di dalam masjid terdapat empat tiang utama atau soko guru masjid. ”Di dalam ada empat saja tiangnya masih dari kayu,” ujar Manan yang dulu pernah menjabat pengurus atau takmir masjid ini.
Namun dindingnya sudah dari tembok. Bangunan masjid kembali dirombak sekitar awal 2000 dan hingga kini bangunan masih dipertahankan. ”Dirobohkan lagi Desember 1999 dan dibangun lagi,” kata Manan.
Pertahankan Atap Tumpang Tiga
MASJID At Taqwa di Dusun/Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito yang kini berdiri mempunyai kemiripan bangunan lawas 1955. Yakni bentuk atapnya tumpang tiga yang masih dipertahankan.
”Dari depan ada kemiripan hanya bagian atap saja, dulu bentuknya hampir sama dengan bangunan ini,” kata Ketua Yayasan At Taqwa Edi Santoso.
Diakui, sebelum berdiri seperti sekarang ini dulunya bangunan sudah tembok. Namun, masih ada dari kayu. Di antaranya empat tiang di dalam masjid. ”Lalu waktu mau azan itu harus naik dulu. Di dalam ada tangganya dipakai azan sama bersih-bersih,” imbuh dia.
Saat ini bangunan peninggalan 1955 lalu hanya menyisakan keramik yang dibiarkan menempel. Hampir seluruhnya bangunan baru. Namun, tak meninggalkan gaya atau model masjid sebelumnya. ”Kalau masjid sekarang kan kubahnya besar-besar, ini kecil dan biasa saja,” ujar Edi yang juga kades setempat ini.
Tidak hanya itu, menurut dia masjid itu sebelumnya menjadi pusat jamaah dari kampung sekitar atau hingga tetangga desa. ”Dulu warga dari Dusun Kedungpapar (Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben) sebelum bangun masjid, jamaahnya ke sini semua,” tutur dia.
Seiring berjalannya waktu, hampir setiap dusun memiliki masjid, sehingga kini jamaah Masjid At Taqwa mayoritas dari warga sekitar saja. ”Waktu hari raya (salat Idul Fitri dan Idul Adha) itu sampai penuh ke jalan jamaahnya,” ujar Edi. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW