Di lihat dari gaya arsitektur, bangunan Masjid Baitul Ghufron merupakan perpaduan Jawa dan modern. Dari luar tampak bangunan masjid tidak terlalu besar dengan warna dominan putih. Sekeliling masjid dipagar dan memiliki lahan parkir cukup luas. Atap masjid berbentuk tumpang tanpa kubah di atasnya.
Masjid memiliki serambi cukup luas. Terlihat di salah satu sudutnya terdapat bedung besar lengkap dengan kentongan. Ruang utama masjid tidak terlalu luas. Meski bangunan cukup sederhana, namun ornamen di dalam masjid cukup indah dan ikonik. Masjid memiliki mihrab yang cukup megah juga mimbar yang apik. ”Masjid ini dibangun sekitar tahun 1980an. Bangunan yang ada sekarang adalah bangunan kedua dari masjid lama,” terang Teguh Santoso, 47, salah satu takmir masjid.
Teguh menceritakan, masjid ini merupakan saksi perjuangan masyarakat Desa Blimbing memerangi praktik kemaksiatan di desanya. Bangunan masjid berdiri di atas lahan eigendom, atau lahan bekas pabrik gula di era penjajahan Belanda di Desa Blimbing. Sebelum masjid berdiri, di wilayah tersebut marak praktik prostitusi peninggalan penjajah Belanda dan Jepang. ”Masyarakat sini dulu menyebutnya sebagai Magersari. Jadi, wilayah gang 1-5 di sekitar masjid itu dulunya memang lokalisasi,” lontarnya.
Resah maraknya aktivitas kemaksiatan di wilayahnya, Toib Muji Suharto, Kades Blimbing di era itu bersama dua rekannya yang seorang TNI dan veteran, berupaya menutup lokalisasi prostitusi tersebut. Salah satu strategi yang dipilih, yakni mendirikan masjid. ”Masjid pun kemudian dibangun di lokasi itu. Yang merintis pembangunannya adalah pak Kades Toib itu, pak Sudarminto dan pak Waras Subagyo hingga berhasil berdiri masjid kecil di sana,” lontarnya.
Merasa terusik, mereka yang terlibat dalam bisnis prostitusi melakukan perlawanan. ”Ya sempat diteror, sampai dilempari kotoran juga sering, tapi pengurus masjid dulu tetap bertahan,” tambah Teguh.
Dengan keteguhan hati, masjid pun terus berkembang. Selain ibadah rutin salat lima waktu, kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya juga dihidupkan. Bahkan, masjid ini kemudian jadi salah satu tempat pertaubatan bagi banyak mantan penghuni lokalisasi. ”Karena memang di lokasi itu benar-benar sangat awam masyarakatnya, dulu sampai harus didatangkan tenaga pengajar agama khusus ke sana untuk membimbing warga,” lontarnya.
Hingga kini, masjid ini masih jadi pusat kegiatan keagamaan Islam bagi masyarakat di Dusun Sukomulyo. Bahkan, menurut Teguh, masjid ini dimaknai sebagai monumen kemenangan Islam dalam memerangi kegiatan maksiat di wilayah tersebut. ”Karena itu jugalah diberi nama Masjid Baitul Ghufron, yang artinya rumah pengampunan,” imbuhnya.
Arsitek Bangunan dari Keluarga Pondok Tebuireng
MASJID Baitul Ghufron di Dusun Sukomulyo, sudah mengalami beberapa kali rehab. Bangunan yang sekarang ada, diarsiteki langsung salah satu keluarga Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng. Bangunannya pun identik dengan masjid di pesantren itu.
”Jadi dulunya masjid itu kecil, malah sebelum pakai nama Baitul Ghufron, masjid itu namanya masih Langgar Subagyo, karena yang mendaftarkan dulu pak Waras Subagyo,” ucap Teguh Santoso.
Meski nama itu tak lama digunakan, sejarahnya tetap tercatat hingga kini. Salah satunya bisa disaksikan pada rekening pendaftaran meteran listrik masjid. ”Jadi sampai hari ini di rekening listrik namanya masih Langgar Subagyo,” lontarnya.
Dalam perkembangannya, sekitar 1995 bangunan masjid direhab. Selain kondisi bangunan yang mulai lapuk, jumlah jamaah juga semakin banyak. Selanjutnya pada 1998 dilakukan rehab total. ”Waktu itu kebetulan Kepala Puskesmas Gudo itu keluarga Pondok MQ, suaminya yang namanya Gus Abd Ghoffar itu kan arsitek, karena beliaunya sering salat di sini selama menjabat sebagai kepala puskesmas, akhirnya dibantulah kita,” lontarnya.
Tahun itu juga, masjid lama dibongkar total. Kemudian berdirilah masjid baru yang hingga saat ini bertahan. ”Konsep dan bentuknya disamakan dengan masjid di dalam Pondok MQ Tebuireng itu dulu,” tambahnya. (riz/naz/riz)
Editor : Achmad RW