”Santri tidak cukup hanya bisa lancar membaca Alquran, dan membacanya setiap hari, tapi juga harus memahami dan mengerti isi kandungan Alquran, yaitu melalui ngaji Tafsir Jalalain,” kata Siti Masyitoh, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bonang Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno.
Selain belajar tafsir Alquran, keilmuan diimbangi dengan kitab Riyadussholihin, untuk memahami hadis-hadis Rasulullah. Ngaji Riyadussholihin juga dilakukan usai salat Subuh. Setelah Asar hingga menjelang Magrib, santri mengaji kitab Ta’lim Al-Mutaallim, untuk memberikan pengetahuan tentang akhlak bagaimana tata cara mencari ilmu. ”Adab dalam mencari ilmu itu penting agar bisa berhasil dalam proses mencari ilmunya,” jelasnya.
Santri yang terbiasa dengan kegiatan keagamaan di luar bulan Ramadan, selama Ramadan ngaji-ngaji kitab semakin banyak. Siti Masyitoh berharap, kegiatan santri selama bulan Ramadan dimanfaatkan untuk banyak beribadah. ”Ngaji selama bulan Ramadan juga sama seperti ibadah,” jelasnya.
Kitab lain yang juga diajarkan adalah kitab Jurumiyah atau nahwu, dan kailani atau sorof. Kitab itu diberikan agar santri mengerti dan memahami dalam mempelajari tata bahasa arab. ”Seluruh santri wajib ikut, tidak ada yang boleh tidur bakda salat Subuh, semuanya ngaji, dan tidak mengurangi kewajiban santri, termasuk yang hafalan, tetap wajib setoran setiap hari,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW