Suasana sejuk nan damai terasa saat memasuki Perpustakaan Tebuireng yang berada satu kompleks dengan Ponpes Tebuireng di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, kemarin (28/2). Ada ribuan buku tertata rapi. Dari ribuan buku itu ada belasan buku spesial yang disimpan dalam rak khusus di ruangan tersendiri dengan suhu 25 derajat celcius.
Ya, itu adalah rak yang menyimpan kitab dan catatan harian karya Mbah Hasyim alias KH Hasyim Asy’ari. Kitab itu, awal kali disimpan dan ditemukan sejak 2000-an. Hingga kini, jumlah nya terus bertambah.
”Kitab dan buku catatan harian karya KH Hasyim Asyari ini masih terawat dan tersimpan dengan baik,’’ ujar petugas IT Perpustakaan Tebuireng Adlan Jupri, 50, kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Ia mengatakan, total ada 18 judul kitab dan catatan harian yang ditulis Mbah Hasyim. Tahun penulisannya juga beragam, ada yang tahun 1921, 1940, dan 1943. Kitab yang ditulis juga beragam. Mulai tulisan yang mengulas hadist, hukum pernikahan, cerita pertemuan tentang Imam Syafii dan Harun Arosid dan lain-lain. ”Semua karya Mbah Hasyim selalu ada tulisan yang menerangkan tahun dan nama Mbah Hasyim,’’ tambahnya.
Dalam menunjukkan kitab dan buku catatan itu, Adlan terlihat penuh kehati-hatian. Maklum, sebagian kitab tua itu rawan robek. Meski demikian, tulisan tangan masih masih jelas terbaca huruf per hurufnya. ”Karena usianya sudah ratusan tahun, tidak semua kitab kondisinya utuh. Ada yang sudah berlubang karena dimakan usia. Ada juga yang dalamnya utuh, tapi sampulnya mulai keropos,” bebernya.
Ia lantas menyebut beragam isi kitab-kitab tersebut. Tentang hadis, fiqih, serta tentang doa-doa. “Bahkan ada juga Alquran tulisan tangan yang dulu dipakai Mbah Hasyim mengaji,’’ tambahnya.
Ada dua jenis tulisan kitab tulisan Mbah Hasyim. Yakni tulisan menggunakan huruf pegon tanpa harakat serta huruf aksara sansekerta. Sedangkan bahan yang digunakan dalam kitab tersebut tak hanya kertas kuno dari Eropa. Sebagian juga ada yang berbahan kulit hewan. Namun ia tidak bisa menjelaskan, jenis hewan itu lembu atau domba. ”Karena sampai sekarang belum ada kajian dari pihak yang lebih ahli,’’ terang dia.
Seluruh kitab karya Mbah Hasyim itu sengaja disimpan dalam almari khusus. Suhu ruangan diatur tetap antara 25 derajat celcius, dan paling tinggi 28 derajat celcius. ”Tidak ada perawatan khusus, namun kami letakan wewangingan agar awet dan dijauhi serangga,’’ jelasnya.
Sejauh ini, kitab-kitab tersebut tak hanya disimpan dalam perpustakaan. Kitab karya mbah Hasyim sebagian sudah ditelaah dan dipelajari para santri untuk keperluan pembelajaran di pondok pesantren. Salah satunya, kitab yang berjudul Adabul Alim Wal Muta’allim. ”Kitab ini juga dikaji untuk sumber ilmu pengetahuan, referensi pendidikan hingga referensi untuk perguruan tinggi,’’ jelas dia.
Dari 18 kitab dan catatan harian mbah Hasyim jumlahnya semakin tahun semakin bertambah. Paling baru adalah temuan buku harian di tumpukan koran lama di Perpustakaan Tebuireng. ”Ya, saat kami temukan beberapa waktu lalu catan harian tersebut dibungkus kain kafan. Buku harian tersebut ditulis pada 1921. Ada tahun pada halaman belakang,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) (bersambung) Editor : Achmad RW