”Saya membangun masjid ini untuk istri saya, Hj Afwah Aisyah Ahmad,” kata H Qomaruzzaman, 66. Ia terinspirasi dari Rasulullah Muhammad SAW. ”Inspirasinya bukan dari Taj Mahal, tapi dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ tambahnya.
Taj Mahal dibangun pada abad ke-17 oleh Sultan Mughal, Shah Jahan, untuk mengenang ratunya, Mumtaz, yang mangkat ketika melahirkan anak ke-14. Sedangkan Nabi Muhammad SAW membangun Masjid Aisyah di Tan’im pada abad ke-7. ”Suatu hari Aisyah bertanya kepada Nabi, dari mana ia harus memulai Umrah? Nabi lalu menjawab dari Tan’im. Akhirnya Nabi membangunkan masjid di situ,” jelasnya. Jarak Tan’im ke Masjidil Haram hanya 7,5 kilometer sehingga banyak jamaah yang mengambil miqat dari situ.
Masjid Aisyah Cempaka dibangun pada Agustus 2019. ”Lama pengerjaannya 18 bulan,” ucap bapak lima anak dan kakek 12 cucu ini. Masjid digunakan pertama kali Ramadan 2021. ”Dipakai salat Jumat pertama kali setelah Idul Adha 2021,” terangnya.
Kapasitasnya hingga 200 jamaah. Lantai satu berukuran 20x15 meter, lantai dua 9x14 meter. ”Lantai dua difungsikan sebagai aula,” ungkapnya. Lantai dua dilengkapi monitor, sehingga jamaah tidak harus melihat ke bawah.
Sejak awal, H Qomar bertekad membangun masjid minimalis, namun bersih dan cantik. Desainnya betul-betul dirancang dengan matang. ”Masjidnya gaya mediteranian, seperti yang banyak di Turki dan Maroko,” paparnya.
Dari luar terlihat seperti rumah biasa. Dikelilingi tanaman hijau. Begitu masuk, kita disambut lantai granit kasar bergaris. Empat langkah kemudian lantai granit halus mengkilat. Di depannya ada kolam ikan berukuran 4X5 meter. ”Isinya 60 koi jumbo,” ujarnya.
Kolam berfungsi untuk kontrol temperatur. ”Agar saat panas, tidak terasa terlalu panas,” bebernya. Kolam berada di sisi selatan bagian utama masjid. Di dalam masjid, lantai dan dindingnya granit. Ada tiga kubah dom, satu besar dan dua kecil. ”Kubah dom itu mencontoh yang ada di Masjid Nabawi,” terangnya.
Juga ada dinding kaca. ”Kita beri banyak dinding kaca biar pandangan memantul, sehingga meskipun sempit, tidak terlihat sempit,” paparnya. Jendelanya menggunakan islamic style. Pintu pun berhias asmaul husna.
Takmir Diserahkan Masyarakat
SEMENTARA itu, meski dibangun pribadi, Masjid Aisyah Cempaka tetap dikelola bersama oleh masyarakat. ”Ketua takmirnya H Khoirul Huda,” kata H Qomaruzzaman. Yang meramaikan masjid juga masyarakat sekitar. Bakda Subuh ada TPQ tahfiz, habis Asar TPQ biasa. Rabu bakda Subuh kajian, Kamis bakda Magrib Yasin tahlil. Jumat bakda Subuh salawatan. Minggu bakda Subuh istighotsah. ”Kadang-kadang dilanjutkan senam,” terangnya.
Setiap peringatan hari besar diadakan pengajian umum. ”Di sini juga sering dipakai akad nikah serta manasik haji dan Umrah,” bebernya. Setiap salat Jumat disediakan nasi bungkus. ”Kita siapkan 100 sampai 150 porsi,” paparnya.
Selama Ramadan, ada pembagian takjil jelang buka puasa. Tarawih satu malam satu juz. Usai Subuh tadarus bapak-bapak. Bakda Asar tadarus ibu-ibu. Juga ada pesantren kilat untuk anak-anak. ”Pada 10 malam terakhir Ramadan ada qiyamul lail,” ungkapnya. (jif/naz) Editor : Achmad RW