’’Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil (pelit) jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang alim yang bakhil,’’ tuturnya.
Orang mati minta hidup lagi hanya demi agar bisa sedekah. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Almunafiqun 10. Saking tingginya keutamaan sifat dermawan, orang Majusi penyembah api sampai mendapat salam dari Nabi.
Alkisah, Abdullah bin al-Mubarak disela ibadah haji tertidur singkat di Hijir Ismail berjumpa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Dalam mimpi itu Nabi berpesan; Saat pulang ke Bagdad nanti, pergilah ke sebuah kampung, carilah orang Majusi bernama Bahram. Kirimkan salamku untuknya dan sampaikan bahwa Allah rila terhadap dirinya.
Abdullah sempat tak percaya dengan mimpinya. Dia lantas wudu, salat dua rakaat dan tawaf. Namun dia tetap mimpi yang sama. Itu terjadi hingga tiga kali. Dia pun bertekad menunaikan amanat Rasulullah.
Sepulang ibadah haji, dia menemui Bahram. ’’Apakah Anda memiliki perbuatan yang baik di mata Allah?’’ tanya Abdullah. ’’Saya gemar memberi hutang kepada banyak orang. Saat melunasi diwajibkan jumlah pembayaran melebihi jumlah hutang semula,’’ jawab Bahram. Abdullah komentar; Itu haram. Karena termasuk riba.
’’Ada perbuatan lain?’’ tanya Abdullah. ’’Anak saya empat putri dan empat putra. Karena sayang menjadi pasangan orang lain, saya jodohkan mereka sesama saudara sekandung. ’’Itu juga haram. Ada lagi?’’ kata Abdullah. ’’Putri saya cantiknya bukan main. Tak ada satu pun pemuda yang pantas berpasangan dengan dirinya. Sebab itu saya jadikan istri sendiri.’’ ’’Itu juga haram. Ada yang lain?’’ lagi-lagi Abdullah berkata.
Bahram meladeni pertanyaan Abdullah bin al-Mubarak dengan sabar. Kali ini ia bercerita tentang pengalamannya bertemu seorang muslimah. Muslimah itu mendekati rumahnya, lalu balik lagi. Mendekati rumahnya, lalu balik lagi. Begitu sampai tiga kali.
Karena curiga, Bahram lalu mengikutinya. Hingga masuk ke gubuk. Disitu ada tiga gadis kecil terdengar merengek menanyakan makanan kepada ibunya karena kelaparan. Air mata perempuan muslimah itu pun meleleh. Dia merasa dihimpit situasi serba sulit, antara anaknya yang kelaparan dan rasa malu mengemis makanan kepada orang kafir Majusi. ’’Mengetahui kondisi itu, saya segera kembali ke rumah. Saya penuhi nampan dengan berbagai makanan, lalu saya antarkan ke rumah perempuan muslimah itu,’’ kata Bahram.
Abdullah bin al-Mubarak menyimpulkan, perbuatan terakhir inilah yang membuat Rasulullah mengirimkan salam khusus kepada Bahram. Mendengar salam Rasulullah, seketika Bahram memutuskan masuk Islam. ’’Asyhadu an lailaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.’’ Usai mengucapkan syahadat, Bahram tersungkur tak sadarkan diri. Dia akhirnya meninggal dunia dalam kondisi khusnul khatimah. (jif/riz)
Editor : Achmad RW