Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masjid ini, jadi Saksi Bisu Perjuangan Laskar Hisbullah di Jombang 

Achmad RW • Jumat, 18 November 2022 | 15:26 WIB
Masjid Najiatud Daroini di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno
Masjid Najiatud Daroini di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno
JOMBANG – Masjid Najiatud Daroini di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno menyimpan sejarah luar biasa. Di awal berdirinya sekitar 1947, bangunan masjid masih berupa bangunan musala panggung dari kayu. Selain jadi tempat ibadah, dulunya musala panggung juga dijadikan tempat persembunyian Laskar Hizbullah.

”Cerita dari almarhum ayah saya begitu, dulu masjid ini adalah langgar panggung, tempat persembunyian tentara Hizbullah,” ungkap Sahlul Basar, ketua Takmir Masjid Najiatud Daroini kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Awal berdiri, musala Najiatud Daroini dijadikan tempat salat sekaligus persembunyian Laskar Hizbullah. Ayah Basar, adalah Asminin yang juga merupakan salah satu anggota Laskar Hizbullah.

Konon, di belakang rumah Basar, ada sebuah lubang besar sebagai tempat persembunyian. Sayangnya, lubang itu kini tidak ada, karena dipakai untuk membangun usaha produksi genting.

Selain itu, pada 1965, langgar juga jadi tempat berkumpulnya para anggota Gerakan Pemuda Ansor saat terjadi pemberontakan G30S PKI. ”Kebetulan ayah saya veteran, jadi, ketika ada situasi seperti itu, jadi penggerak,” kata Basar.

Dari langgar panggung berukuran enam meter persegi, kemudian dibangun semi permanen pada tahun 1960, namun ukuran masih sama, yaitu enam meter. Kemudian, 1969 kembali dipugar, diperbesar menjadi ukuran 10 meter.

Dalam perjalanannya, pada 1974, musala kemudian dijadikan tempat salat Jumat. Secara otomatis, langgar berubah menjadi masjid, meskipun dengan bentuk bangunan yang sama.

Masjid dengan ukuran itu bertahan cukup lama. Hingga akhirnya pada 2002 bangunan masjid dirobohkan total, dan dibangun lagi menjadi dua lantai.  ”Hampir pada setiap pembangunan masjid dari masa ke masa, selalu dirobohkan total, dan dibangun ulang, dengan ukuran yang lebih besar, sampai sekarang ini,” ungkap Basar.

Jadi Pusat Penyebaran Agama Islam

MASJID Najiatud Daroini juga berperan besar dalam penyebaran agama Islam. Jika dulunya masyarakat sekitar banyak dari kalangan abangan, dalam perkembangannya kini, sudah memeluk agama Islam.

”Dulu di sini masyarakat banyak yang Abangan, alhamdulillah, sekarang semua muslim,” jelasnya.

Kala itu, tokoh masyarakat tidak ingin mengubah secara frontal tradisi yang ada, namun mendekati dengan cara yang lebih halus. Sehingga Islam bisa diterima masyarakat sekitar. ”Selama tidak bertentangan dengan akidah, saya rasa tidak masalah,” katanya.

Di bagian dalam ada empat tiang sebagai penyangga, pagar pembatas lantai dua terbuat dari kayu. Cekungan kubah dari dalam dengan cat warna biru, dengan lampu gantung yang indah.

Aktivitas keagamaan di sana juga cukup padat. Selain salat jamaah lima waktu, juga kegiatan pengajian seminggu sekali, dan TPQ setiap setelah salat Magrib. ”Saya ingin mengembalikan masjid seperti era saya kecil dulu, ramai, tidak pernah sepi, anak-anak kerasan dalam masjid,” jelas Basar.

Dari beberapa kali pemugaran, seluruh bangunan lama dibongkar total. Hanya pondasi yang terus diperlebar serta lantai keramik yang sampai sekarang masih terawat dan bersih. Basar mengatakan, meski menggunakan lantai keramik lama, menurutnya yang terpenting adalah kebersihan. ”Utamanya kesucian tempat wudu, jangan sampai nanti dari kamar kecil ada situasi yang tidak bersih,” pungkas Basar. (wen/naz/riz)

  Editor : Achmad RW
#laskar hisbullah #Mojowarno #masjid tua #Jombang #Gedangan #rubrik rumah ibadah #masjid