Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masjid di Jombang ini Jadi Jujukan Musafir, Bahkan Pernah Disinggahi Gus Dur

Achmad RW • Jumat, 11 November 2022 | 14:03 WIB
Masjid Ali Syahid
Masjid Ali Syahid
JOMBANG - Masjid Ali Syahid yang terletak di Dusun/Desa Janti, Kecamatan Jogoroto ini adalah salah satu masjid tua. Masjid yang terletak di pinggir jalur arteri nasional Surabaya-Madiun ini, diyakini sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka.

Untuk menemukan masjid Ali Syahid cukup mudah. Selain berada di pinggir jalan nasional, masjid Ali Syahid memiliki dua kubah yang besar berwarna keemasan yang menjadi ciri khas masjid. Selain itu, di bagian depan ada bangunan gapura yang diapit dua dua bangunan menara.

Chamidiyah, 60, menceritakan, masjid Ali Syahid didirikan kakeknya, yakni Kiai Ridwan Ali Syahid. Kiai Ridwan sendiri adalah tokoh agama yang berasal dari Desa Balongrejo, Kecamatan Sumobito. Kiai Ridwan menikah dengan mbah Masamah dari Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto dan tinggal di Janti. ”Beliau dulunya adalah salah satu tokoh agama. Kemudian menetap di sini dan mendirikan masjid ini,” ujar dia ditemui usai salat Duhur kemarin (10/11).

Secara pasti ia tidak ingat kapan masjid itu didirikan. Hanya saja bangunan masjid yang berada di lingkungan sekolah ini telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. ”Kalau MI didirikan mbah Ridwan tahun 1948, tapi masjid ini jauh sebelumnya, mungkin selisih beberapa puluhan tahun sebelumnya,” tambahnya.

Sejak dulu, masjid ini memang dikenal dengan tempatnya yang luas. Luas tanahnya diperkirakan lebih dari 50 meter persegi, mulai dari titik nol jalan raya. ”Sejak awal tanah masjid ini memang luas, mulai dari jalan raya sampai di sini,” jelas dia.

Terpisah, Nur Solikan, 70, pengurus masjid Ali Syahid menerangkan, bangunan masjid telah melalui beberapa perubahan. ”Saya datang ke sini sekitar tahun 1980-an. Waktu, itu kubahnya masjid satu. Lalu tahun 1992 direnov menjadi seluas ini,’’ ujar dia.

Sekitar tahun 80-an, bangunan masjid belum sebesar sekarang. Ia memperkirakan hanya 10 x 10 m2 yang diperkirakan dapat menampung sekitar 50 jamaah. Namun sekarang, ukurannya sekitar 26 x 30 yang dapat menampung ratusan jamaah. ”Ya kalau waktu salat Idul Fitri masjid ini full. Baik lantai dua maupun halamannya,” imbuhnya.

Lokasi masjid yang terletak di pinggir jalan nasional menjadikan masjid jadi jujukan musafir. Bahkan pernah disinggahi Gus Dur. ”Saya lupa tahun pastinya saat ke sini, namun yang jelas sebelum menjadi presiden. Mungkin antara tahun 97-98,” ujar Nur Solikan.

Waktu itu, anak ketua takmir masjid ini merupakan sopir pribadi Gus Dur. Saat mampir, Gus Dur ikut menyumbangkan dana pembangunan. ”Nominalnya kalau tidak salah sektiar Rp 5 juta kala itu,” terangnya.

Disamping itu, masjid ini tak pernah sepi dari jamaah. Selain dimanfaatkan salat lima waktu warga Dusun Janti dan sekitarnya, masjid ini juga menjadi jujukan musafir. ”Bahkan ada fasilitas tempat istirahat bagi para musafir,” imbuhnya. Selain itu, juga ada kegiatan keagamaan lain seperti pengajian jamiyah, dibaiyah secara rutin. ”Juga ada anak anak TPQ yang ngaji di sini. Ada yang mulai siang sampai sore, ada yang dari Asar sampai Magrib,” pungkasnya. (ang/naz/riz)

  Editor : Achmad RW
#Masjid Ali Syahid #masjid tua #Jombang #Jujugan Musafir #rubrik rumah ibadah #masjid