”Ya sekitar 1930-1940-an masjid ini berdiri. Saya tidak hafal betul karena pendatang,” ungkap Siswanto, Ketua Takmir Masjid Al Hikmah.
Masjid Al Hikmah dulunya adalah masjid kecil yang terbuat dari papan kayu khas bangunan lawas. Ia tak ingat betul, kapan masjid ini direnovasi besar-besaran, sehingga kini sudah memiliki bangunan yang lebih modern.
Pembangunan dilakukan masyarakat secara gotong royong. Sebagian bangunan masjid yang terbuat dari kayu merupakan sumbangan dari kayu makam, dan kayu hutan. Kayu-kayu tersebut dipakai untuk membuat serambi masjid yang menyerupai pendopo.
Karena bahan kayu yang dicat cokelat lebih indah dilihat, maka tidak lagi perlu plafon untuk membuat masjid agar terlihat lebih modern, justru kayu membuat Masjid Al Hikmah tampak klasik dan unik. ”Yang bangunan pendopo ini adalah bangunan masjid lama, yang dirobohkan total, dan kemudian dibangun ulang,” jelas Siswanto.
Tak seperti masjid-masjid pada umumnya, Masjid Al Hikmah memiliki bentuk bangunan yang cukup unik. Atap masjid berbentuk tumpang. Bangunan utama sudah mencirikan masjid modern, menggunakan pintu kupu tarung, lengkap dengan jendela kaca dengan kusen-kusen kayu jati.
Bedanya, di area serambi, Masjid Al Hikmah memiliki bangunan yang mirip seperti pendopo. Tanpa plafon, warna cokelat membuat bangunan memiliki kesan klasik, dan megah. Di area pendopo teduh, lantaran di kanan kirinya ruang terbuka. Terlebih bangunan masjid dikelilingi tanaman yang semakin menambah suasana masjid semakin asri. ”Yang kanopi ini masih baru, pembangunan masjid ini bertahap sedikit demi sedikit. Sampai tempat wudu juga sudah berubah,” jelasnya.
Pertahankan Soko Guru Lawas
STRUKTUR bangunan masjid lebih dari 90 persen sudah berubah. Hanya empat tiang utama atau soko guru masjid adalah yang tersisa dari bangunan lama. Tiang tersebut hingga kini masih tampak kokoh untuk menyangka bangunan utama pendopo serambi.
”Yang masih kita pertahankan kayu balok depan itu, karena itu memang masih kuat, dan agar ada yang tersisa bangunan jaman dahulunya,” jelasnya.
Kegiatan masyarakat sekitar lebih banyak dilakukan di serambi masjid. Ada acara rutinan pengajian, dan salawatan yang rutin dilakukan setiap satu bulan sekali, selain salat wajib.
Bahkan tidak hanya warga sekitar, Masjid Al Hikmah juga sering dipakai kegiatan warga lintas desa. ”Yang menghidupkan kegiatan di masjid ini tidak hanya warga Made, tapi juga warga desa lain,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW