Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Musala Wakaf Wali Songo, Didirikan Kiai Adlan Aly, Jujukan Santri Transit

Achmad RW • Jumat, 30 September 2022 | 13:57 WIB
Bangunan musala wakaf Wali Songo di Desa Cukir
Bangunan musala wakaf Wali Songo di Desa Cukir
JOMBANG – Musala Wakaf Wali Songo di Desa Cukir, Kecamatan Diwek kental akan nilai sejarah. Musala yang terletak Jl Irian Jaya ini didirikan salah satu ulama kharismatik, yakni Kiai Adlan Aly dari keluarga Ponpes Tebuireng. Lokasinya pun hanya berjarak sekitar 100 meter dari Ponpes Putri Walisongo.

Informasi yang dihimpun, Musala Wakaf Wali Songo didirikan di atas lahan milik pendiri Ponpes Walisongo Cukir Kiai Adlan Aly sekitar tahun 80-an, atau beberapa tahun setelah Ponpes Walisongo didirikan.

Kiai Adlan Aly sendiri adalah adik dari KH Ma’shum pendiri Pondok Seblak Cukir yang merupakan istri Nyai Khairiyah Hasyim, putri dari KH Hasyim Asy’ari pendiri NU. ”Jadi sebenarnya, musala ini adalah musala wakaf dari Nyai Hj Chalimah istri dari Kiai Adlan Aly,” ujar Gus Amir Jamiluddin, cucu Kiai Adlan Aly ditemui Jawa Pos  Radar Jombang, kemarin (29/9).

Singkat cerita, pada tahun 80-an, Kiai Adlan Aly memberikan tanah kepada istrinya Nyai Hj Chalimah dan tanah itu diwakafkan untuk pendirian musala. ”Dulu yang membangun ya otomatis Kiai Adlan Aly bersama warga Cukir,” tambahnya.

Secara pasti, ia tak mengingat tahun pendirian musala itu, namun ia ingat jika musala didirikan usai didirikannya pondok sekitar tahun 1970-an. ”Jadi musala didirikan setelah pondok Walisongo berdiri,” jelas dia.

Sejak awal didirikan, musala tersebut memang diwakafkan dan diberikan untuk warga Desa Cukir. Fungsi utama selain sebagai kegiatan ibadah sehari-hari warga setempat juga untuk kegiatan keagamaan warga setempat. ”Dulu juga sering dipakai transit santri Tebuireng, karena letaknya strategis di pinggir jalan utama,” papar dia.

Sepeninggal Nyai Hj Chalimah tahun 1982, musala tersebut sepenuhnya diserahkan kepada warga setempat. Semua kepengurusan juga ditangani warga setempat. ”Sampai sekarang jadi musala wakaf dan takmirnya adalah warga setempat,” pungkasnya.

Bangunan Utama Dipertahankan Keasliannya

MUSALA Wakaf Wali Songo terletak di pinggir Jl Irian Jaya yang merupakan jalur provinsi jurusan Surabaya-Kediri. Lokasinya berada di pusat keramaian menjadikan musala ini tak pernah sepi. Selain jujukan transit santri, juga pedagang pasar Cukir.

Gus Amir Jamiluddin menerangkan, sejak dulu luas bangunan Musala wakaf Wali Songo tetap sekitar 7 x 7 meter. Di dalamnya, ada dua ruangan terpisah untuk jamaah pria dan wanita. ”Sebenarnya lantai dua dulu rencananya digunakan untuk kantor PPP Diwek. Namun tidak jadi karena beberapa alasan,” ujar dia.

Akhirnya, hingga sekarang lantai dua musala tersebut tidak dimanfaatkan untuk kegiatan apa-apa. Hanya lantai satu yang digunakan untuk ibadah. ”Yang dimanfaatkan hanya lantai satu saja,’’ pungkasnya.

Sementara, H M Masub, 66, Ketua Takmir Musala Wakaf Wali Songo menyampaikan, sejak dulu bangunan Musala Wali Songo tetap. Pernah dilakukan beberapa kali dilakukan renovasi namun hanya penambahan keramik pada dinding luar. ”Secara keseluruhan tetap asli, termasuk lantainya,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW
#rubrik masjid #Jombang #musala tua #musala #cukir #diwek #musala wakaf #kiai adlan aly