”Berdirinya hampir bersamaan dengan Pondok Pesantren Midanutta'lim Mayangan. Karena untuk mendukung kegiatan pesantren, pasti ada masjid,” kata Gus M Ali Imron, Ketua Takmir Masjid Almanshur.
PP Midanutta'lim berdiri sekitar tahun 1830. Pendirinya Kiai Hafidz yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Kampil. Mulanya, Mbah Kampil mengajar di sebuah musala kecil yang terbuat dari bambu.
Sepeninggal Mbah Kampil, pesantren dilanjutkan KH Nur Syam, mulai 1860 sampai dengan 1902. Pada periode ini sudah tampak perkembangannya. Masyarakat yang ngaji semakin banyak. Baik anak-anak maupun dewasa. Meski belum klasikal.
Setelah itu, dilanjutkan menantunya, KH Manshur, mulai 1902 hingga 1936. Pada periode ini, perkembangan pesantren semakin pesat. Lokasi pesantren sudah seperti yang ada sekarang ini. Pembangunannya dimulai 1905 yang dilengkapi pula dengan sebuah langgar tempat ibadah. Inilah cikal bakal Masjid Almanshur. ”KH Hasyim Asy’ari pernah belajar kitab Ibnu Aqil dari KH Manshur,” terangnya. Kemungkinan ngajinya hanya tabarukan. Karena kala itu KH Hasyim Asy’ari sudah alim.
Sepeninggal KH Manshur, pesantren dilanjutkan putranya, KH Minhajut Tullab mulai 1936. Pada masa ini mulai ada pendidikan formal berbentuk madrasah. ”Bangunan awal Masjid Almanshur masih kita pertahankan,” kata Gus Ali Imron. Ukurannya 5X5 meter persegi. Ditandai keramik warna kuning. ”Orang dulu membangunnya penuh perjuangan,” kata Gus Miftah, Kepala MI Midanutta'lim.
Keramik bangunan lawas ada lima baris. ”Untuk tiga barisnya saja, zaman dulu membutuhkan dana senilai sawah banon seratus (1.400 meter persegi, Red),” bebernya. Masjid Almanshur sudah beberapa kali direnovasi. Dari bangunan awal 5x5 meter, kini 12x14 meter. Juga ada bangunan lantai dua. ”Lantai duanya untuk kamar santri,” jelasnya.
Pusat Gemblengan Santri
MASJID Almanshur di Dusun/Desa Mayangan Kecamatan Jogoroto menyimpan banyak sejarah. Di situ ada koleksi kitab kuning berusia ratusan tahun. ”Sudah hampir lapuk, jadi kalau dibuka mrotoli,” kata Gus M Ali Imron, Ketua Takmir Masjid Almanshur sekaligus Pengasuh PP Midanutta'lim.
Di antaranya kitab Futuhatul Ilahiyyah syarah tafsir Jalalain delapan jilid. Serta kitab Ithaf Sadatil Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin 14 jilid. Kala G30S/PKI 1965, Masjid Almanshur menjadi pusat gemblengan santri yang melawan PKI. Kala itu pengasuh pesantren KH Minhajut Tullab. ”Kiai Minhaj ini terkenal sakti,” tegasnya.
Setiap ada orang dituduh mencuri, selalu dibawa ke Kiai Minhaj. Kiai Minhaj lalu membakar lempengan tembaga. Tangan si tertuduh lalu disuruh memasukkan. ”Jika dia tidak mencuri, tidak terasa panas,” paparnya.
Di Masjid Almanshur terdapat makam KH M Manshur. Lokasinya tepat di balik pengimaman. ”Makam ini menjadi jujugan peziarah, baik dari alumni maupun masyarakat umum,” jelasnya. (jif/naz/riz) Editor : Achmad RW