Masjid ini, berada di pinggir jalan kabupaten dusun setempat. Tampak dari depan masjid ini berbentuk minimalis. Memiliki luas 19 M2. Mirip bangunan rumah warga. Di serambi masjid, setiap dindingnya sudah terlapisi keramik. Sementara pintu dan lantainya begitu khas bangunan lawas. Memiliki tiga pintu di depan, dan dua pintu di bagian samping. Semuanya berbentuk kupu tarung.
Masjid ini memiliki corak warna kuning. Mulai lantai hingga cat tembok. Lantainya juga sudah keramik. Namun merupakan keramik lawas. ”Masjid ini dibangun mulai dari nol, sejak 1962,” kata Ketua Takmir Masjid Al Ikhlas Samiun.
Dikatakan, hampir seluruh bangunan saat ini merupakan tinggalan sesepuh dusun setempat. Tak ada renovasi signifikan, struktur utama bangunan sejak berdiri hingga sekarang tetap. ”Hanya atap saja yang diperbaiki, karena kayunya sudah lapuk. Untuk dinding, pintu dan gawangnya sama lantai masih yang lama. Kita tambahi keramik untuk dinding depan dan dalam,” imbuh dia.
Masjid itu berdiri di atas lahan wakaf warga. Sebab, kala itu warga dusun setempat melaksanakan salat Jumat ataupun ibadah salat Idhul Fitri dan Idhul Adha di tetangga desa. ”Dulu di sini hanya punya musala, untuk Jumatan ke masjid di Desa Gedangan (Kecamatan Sumobito),” ujar Samiun. Karena itu, warga setempat berembuk agar memiliki masjid sendiri. ”Akhirnya dibangun masjid oleh pak kades yang dulu,” tutur dia.
Dalam proses pembangunannya, lanjut Samiun, tak langsung jadi dalam waktu satu tahun. Mulai pondasi hingga benar-benar berdiri butuh waktu lama. ”Saya masih ingat waktu mondasi dulu pakai kerbau. Jadi, lima ekor kerbau ini baris digiring muter buat pemadatan tanahnya, model orang-orang dulu kan begitu. Soalnya belum ada alat seperti sekarang,” ujar Samiun yang kini berusia 68 tahun ini.
Dikatakan, sebagai pengganti mesin untuk memadatkan tanah, kerbau menjadi salah satu pilihan warga. Dengan harapan, tanah yang akan dibangun masjid benar-benar padat. ”Kena injakan kerbau tanahnya bisa keras. Dulu di sini banyak kerbau dulu sampai 20-an ekor,” tutur dia.
Berikut pembuatan gawang dan pintu hingga atap, menurut Samiun kala itu mendatangkan gelondongan kayu jati. ”Digergaji dan di buat di sini semua, kalau tidak salah kayu jatinya dari alas Kabuh,” terang dia.
Menurut Samiun, masjid kemudian benar-benar difungsikan warga setempat 1970-an. ”Pokoknya lumayan lama, setelah buat pondasi itu sempat mandek. Baru benar-benar jadi 1974,” kata Samiun.
Dibangun Bertahap, Ada Penambahan Kubah
REHAB, sepat dilakukan beberapa kali di masjid ini, namun struktur utama masjid tidak berubah. Perbaikan sifatnya hanya menambah interior dan eksterior masjid. Seperti halnya bangunan kubah, baru dipasang sekitar 2012-an. ”Untuk kubah ini baru 10 tahunan,” kata Samiun kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (15/9) kemarin.
Setelah dilengkapi kubah, bangunan masjid semakin mudah dikenali. ”Dulu atapnya ini lancip bekas kayu jati dipotong, mungkin karena dibangun bertahap orang-orang dulu masih belum punya dana atau bagaimana,” imbuh dia.
Kini masjid itu sudah memiliki kubah. Bentuknya juga sederhana tak sebegitu besar. Berbahan stainles dengan bagian ujung atau puncaknya terdapat lafaz Allah. ”Seperti rumah atasnya ini runcing, cuma sekarang sudah ada kubah kecil,” lanjut Samiun.
Selama ini masjid ini juga dipergunakan untuk ibadah salat lima waktu. Di lain itu biasanya dipergunakan untuk salat Duha siswa lembaga pendidikan di dusun setempat. ”Untuk kegiatan TPQ sudah dipisah, ya khusus dipakai untuk salat saja,” ujar dia.
Meski bangunannya sederhana, masjid Al Ikhlas mampu menampung banyak jeamaah, hanya memang, pada momen-momen tertentu biasanya meluber hingga ke halaman depan. ”Waktu salat id biasanya sampai tempat parkir,” lanjut Samiun.
Bangunan lawas yang kini dipertahankan menurut Samiun, sempat akan dirombak. Terutama lantai masjid. ”Dulu mau diganti, akhirnya pikir-pikir dulu. Karena wakaf orang-orang dulu, jadi eman. Akhirnya sampai sekarang dibiarkan begini,” kata Samiun. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW