Lokasi masjid ini, berada sekitar 100 meter di utara Jl Raya Megaluh-Denanyar. Dari luar, kesan lawas masjid ini masih sangat kentara. salah satunya dari bangunan menara masjid.
Pada ruang utama masjid terdapat empat tiang penyangga utama atau soko guru. Bangunan mihrab masjid merupakan bangunan lawas yang hingga kini dipertahankan. Tembok tebal dengan dua jendela di kiri dan kanannya.
Hal serupa juga terlihat pada bangunan ruangan salat untuk jemaah wanita di sebelah utara ruangan utama. ”Bagian utama itu bisa dibilang memang masih asli sejak rehab pertama tahun 1976-an,” terang Selamet, Penasehat Takmir Masjid Nurul Jannah.
Selamet bercerita, masjid ini dulunya adalah sebuah musala kecil peninggalan H Soleh, seorang pemuka agama di Dusun Banjarkerep. Musala itu, berdiri sejak masa penjajahan. ”Bangunannya memang tembok, tapi kecil dulunya,” lanjutnya.
Saat itu, satu-satunya masjid besar di Desa Banjardowo berada di Dusun Gempolpait, atau sekitar 3 kilometer dari kampung ini. Seluruh warga juga harus berjalan atau menggunakan sepeda angin untuk menuju masjid itu setiap kali salat Jumat. ”Hingga tahun 1965, jumlah jamaah sudah cukup untuk salat Jumat. Musala yang awalnya tidak bernama dibangun masjid Nurul Jannah ini,” ungkapnya.
Di awal berdirinya, bangunan Masjid Nurul Jannah masih sangat sederhana. Musala lama, sebagai bangunan induk hanya ditambah bagian depannya. Bangunan tambahan ini berfungsi sebagai selasar dan halaman masjid. ”Tambahannya pakai bambu itu awalnya. Tahun 1976 itu dibongkar dan berdiri masjid lebih besar,” imbuhnya.
Usai difungsikan, kegiatan keagamaan semakin hidup. Rehab kedua, baru dilaksanakan sekitar tahun 2013. Dalam rehab kedua itu, perubahan besar dilakukan, khususnya pada bagian depan masjid. ”Seperti yang dilihat itu, jadi bangunan kayu yang dulu sudah tidak ada, berganti jadi cor itu,” tambah Selamet.
Hingga kini, masjid ini selalu ramai dengan kegiatan warga. Lokasinya yang tak jauh dengan jalan utama juga membuat masjid ini sering kali jadi jujukan musafir yang lewat. ”Di depan itu kan banyak perumahan baru, karena mereka tidak punya masjid juga biasanya ke masjid ini kalau salat Jumat,” pungkasnya.
selanjutnya...
Mihrab Masjid Pertahankan Bangunan Lawas
MASJID Nurul Jannah sudah dilakukan rehab berkali-kali, meski begitu, sebagian bangunan lawas masih dipertahankan. Salah satunya bangunan mihrab masjid dan bagian menara.
Salah satu yang membedakan bangunan mihrab dengan bangunan lainnya, yakni dari struktur tembok mihrab masih menggunakan bata kuno. ”Itu masih bangunan lama, masih pakai bata satu sen istilahnya, atau susunan dua bata yang ditempelkan,” terang Selamet, Penasehat Takmir Masjid Nurul Jannah.
Selain itu, peninggalan bangunan lawas lainnya, yakni menara masjid. ”Ini sejak dulu ada tiang empat ini, cuma dulunya kayu terus diganti jadi cor, tapi bagian menara atasnya masih asli,” imbuhnya. Konsep bangunan atapnya juga mempertahankan konsep atap tumpang khas bangunan masjid Jawa. Agar bisa menampung banyak jamaah, bangunan masjid ditambahkan serambi. (riz/naz) Editor : Achmad RW