Khoirul Abidin, 42, ketua takmir masjid menceritakan, masjid ini berdiri di atas tanah wakaf salah satu warga bernama Sakiban. ”Dulunya belum masjid, namun musala panggung yang dibangun masyarakat Dusun Sumoyono,’’ ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang kemarin (23/6).
Kemudian, karena jumlah jamaah terus bertambah akhirnya musala tersebut dibangun menjadi masjid tahun 1971. ”Kita renovasi termasuk memperluas area masjid,’’ tambahnya.
Tak berhenti di situ, panitia setempat kembali merenovasi masjid untuk yang kedua kalinya tahun 1983. ”Tahun 1983, kita bangun serambi masjid,’’ terangnya.
Terakhir, masjid At Taqwa kembali direnovasi yang ketiga kalinya tahun 2000-an. Ada beberapa perubahan mencolok khususnya pemasangan keramik di dinding masjid. Namun, sejak awal konsep kesederhanaan masjid ini tak berubah. ”Memang masjid ini memiliki konsep sederhana,’’ papar dia.
Pantauan di lokasi, masjid ini berada di tengah kawasan permukiman warga Dusun Sumoyono. Masjid ini memiliki halaman dan area pekarangan kebun yang cukup luas. Ia mencatat, total luas tanah yang sudah bersertifikat 365 m2 dan yang belum bersertifikat 2.100 m2. ”Kalau luas bangunan utama sendiri 5 x 19 m,’’ jelas dia.
Serambi masjid ini memiliki banyak tiang penyangga. Kemudian, atap masjid memiliki gaya atap tumpang mirip atap masjid khas Demak.
Masjid tersebut, tak hanya dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan keagamaan, namun juga pusat kegiatan masyarakat. Di antaranya, pengajian kitab setiap Ramadan, pengajian rutin malam Jumat Pahing bersama KH Nurhadi (Mbah Bolong), pembacaan shalawat nabi setiap malam Jumat legi, kajian fikih setiap Minggu sore, kultum subuh setiap Rabu pagi, pembinaan seni baca Alquran setiap Sabtu siang. ”Ada juga kegiatan peringatan hari besar Islam lainnya,’’ pungkasnya.
Selanjutnya....
Budi Daya Pisang dan Bebek untuk Masjid Berdikari
ADA yang unik di Masjid At-Taqwa, Dusun Sumoyono, Desa Cukir Kecamatan, Diwek kemarin (23/6). Yakni kegiatan budi daya bebek pedaging dan kebun pisang yang luas. Ternyata, kedua program itu dikelola Badan Usaha Milik Masjid (Bummas) setempat.
Khoirul Abidin, 42, ketua takmir masjid menyampaikan, tujuan didirikannya Bummas dengan program budi daya bebek dan kebun pisang adalah untuk kemandirian masjid. Hasilnya, akan dikembalikan untuk pemanfaatan jamaah. ”Selain kemandirian masjid, kita orientasinya untuk edukasi kepada jamaah. Kalau ada jamaah yang berminat untuk budi daya akan kami tunjukkan caranya. Sehingga ini bisa bermanfaat untuk jamaah,” ujar dia.
Hasil panen dari budi daya bebek dan pisang, juga dikembalikan untuk jamah. ”Sebagian hasilnya juga kita putar untuk kebutuhan pengembangan Bummas,” tambahnya.
Dijelaskan, modal Bummas tersebut berasal dari pinjaman beberapa donatur. Setiap kali panen, sebagian hasilnnya digunakan untuk mengembalikan pinjaman. ”Awalnya kita berencana mengambil modal dari kas masjid. Namun tidak jadi, karena tidak berani,” papar dia.
Budi daya bebek dan kebun pisang juga dikelola jamaah. Hasil panen pisang sebagian besar dijadikan suguhan ketika ada pengajian dan kegiatan di masjid. ”Kita jkuga memiliki divisi dapur sedekah, di mana divisi tersebut kita berikan wewenang mengelola, menerima dan mengolah sedekah dari para jamaah. Setiap kegiatan divisi ini inilah yang menjamu dan melayani jamaah dari sisi konsumsi secara umum tanpa mengambil kas infaq masjid,” pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW