Takwa dapat terbentuk itu merupakan konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh, yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut terhadap murka azab Allah SWT. Selalu berharap limpahan karunia dan maghfirah-Nya.
Menurut Imam Qusyairi, takwa dalam tulisan arab terdiri dari empat huruf, yakni huruf Ta’ yang bermakna Tawadu, huruf Qof mempunyai arti Qona’ah, lalu huruf Wawu berarti Wara’, dan huruf Ya’ berarti Yakin.
Dari susunan kata tersebut maka seseorang dapat disebut telah memperoleh derajat takwa apabila memiliki empat sifat. Di antaranya, Tawadlu, sikap rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, tidak takabur, tidak mau menonjolkan diri dan jauh dari arogansi, walaupun Allah SWT telah memberikan kelebihan segalanya.
Kelebihan harta jadi orang kaya, kelebihan ilmu jadi orang alim, kelebihan fisik jadi orang tampan dan cantik, kelebihan kekuasaan punya pangkat, jabatan, kedudukan. Orang yang tawadlu menganggap bahwa semua kelebihannya adalah amanah, titipan Allah SWT yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Kemudian, Qonaah menerima apa adanya, menerima yang sedikit, rida dengan segala pemberian, karunia yang menjadi keputusan Allah SWT. Menurut Imam Al Ghazali, orang qonaah adalah orang yang merasa kaya meskipun tidak kaya, dirinya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan dan dianugerahkan Allah SWT.
Selain itu, Wara sikap berhati-hati, menahan diri, tidak hanya menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik (haram), tetapi juga menahan diri hal-hal yang tidak jelas, tidak pantas (subhat), meninggalkan yang meragukan dan mengambil yang tepercaya. Orang yang Wara selalu selektif dan berhati-hati terhadap sesuatu. Berhati-hati betul dalam berucap, bersikap, bertindak, juga dalam memutuskan segala sesuatu yang terkait dengan dirinya. Karena itu peluang selamatnya menjadi lebih besar.
Serta Yakin. Imam Qusyairi menyebutkan bahwa yakin itu adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar dan tidak terombang ambing. Nabi SAW bersabda, “Yang sangat aku takuti terhadap umatku adalah lemahnya keyakinan mereka”. Dalam kehidupan ini seseorang harus bersikap optimistis kendati perjalanan hidup tidak selamanya manis.
Proses menuju orang yang bertakwa ini harus terus dilakukan dan dilatih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai kegiatan ibadah dan kebaikan. Puncak latihannya pada bulan suci Ramadan ini. Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada kita agar kita mendapat derajat takwa. Amin.
Oleh:
Hj Azminatul Uhud, M.Pd.I
(Wakil Ketua Yayasan & KBIHU Thoriqul Jannah, Mojongapit, Jombang) Editor : Achmad RW