Ibadah puasa adalah jenis ibadah yang bisa dikatakan ibadah lintas sejarah, lintas agama, dan lintas makhluk. Dikatakan lintas sejarah karena sejak Nabi Adam sudah dikenal puasa, pada semua agama juga dikenal ibadah puasa bahkan puasa juga ditemukan dalam kehidupan hewan/binantang. Ada apa dengan puasa? Tentu ada suatu rahasia dan hikmah di balik syariat puasa yang diwajibkan Allah SWT.
Pada hewan dan binantang terdapat tujuan ketika melakukan puasa. Saat persiapan musim reproduksi atau hibernasi, beberapa binatang menahan makan dan minum dengan beberapa alasan kesehatan. Gajah, kucing dan anjing berpuasa ketika tubuh mereka terluka. Sedangkan kuda dan sapi akan berpuasa ketika jatuh sakit, laba-laba dan anak ayam akan berpuasa sebagai periode mereka bertransisi atau beradaptasi ke periode hidup lebih dewasa.
Anjing laut, salmon, penguin, dan angsa berpuasa untuk meningkatkan kualitas sperma mereka. Hal ini dilakukan menjelang musim kawin, sehingga mereka bisa memperoleh anak dengan kualitas yang bagus.
Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah harus mengganti kulitnya secara berkala. Namun tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus berpuasa tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya tunai, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru. Sedangkan ulat adalah hewan yang doyan makan pada saat tertentu ia berpuasa dalam masa kepompong akan berubah wujud menjadi kupu-kupu yang indah yang sama sekali berbeda bentuknya, cara bergeraknya, jenis makanan dan cara makannya, hingga perilaku lainnya.
Demikianlah rahasia binantang melakukan puasa akan tetapi beda dengan rahasia puasa yang ditetapkan Allah SWT pada manusia. Puasa bukan hanya untuk sesuatu yang bersifat fisik sebagaimana puasanya binatang. Tujuan puasa yang ditetapkan Allah SWT melampui batas fisik. Rahasia puasa mengarah pada tujuan tercapainya kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan manusia sebagai makhluk yang harus berdampingan dengan sesamanya. Tujuan tersebut sangat jelas dalam surat Al-Baqarah, ayat 183. ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Jika melihat indikator takwa maka tujuan akhir dari puasa adalah menjadi manusia paripurna al-insan al-kamil. Oleh karena itu agar tujuan disyariatkanya berbuah hasil, maka ada tiga hal yang harus dipenuhi bagi orang yang sedang berpuasa.
Pertama, menahan diri dari makan dan minum. Di antara cara efektif melemahkan hawa nafsu adalah dengan mengosongkan perut.
Kedua, menahan seluruh indra dan anggota badan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Indra mata bersih dari maksiat, indra telinga jauh dari suara kotor, indra rasa dan penciuman selamat dari hal-hal terlarang, mulut tidak berbicara kotor dan menggujing, kaki dan tangan mengarah pada hal benar dan lain sebagainya. Selain itu pikiran dan hati terhindar dari sampah batin dan pikiran, ikhlas, berpikir positif, tidak sombong, tidak ada iri dan dengki dalam benak dan hatinya.
Ketiga, menahan hati kecondongan selain Allah SWT. Artinya hatinya benar-benar berpuasa selain Allah SWT yang ada dalam hati hanya Allah SWT. Orang sejenis ini ketika ia menemukan dalam dirinya ada sedikit kecondongan selain Allah maka ia menghukumi puasa dirinya batal.
Jika tiga hal terpenuhi dan terimplementasikan dengan baik maka puasa akan membuahkan hasil yaitu takwa. Ia bak ulat lahir dengan jiwa yang baru dan sempurna sebaliknya jika ketiga hal tersebut terutama nomor dua dan tiga, maka puasa tidak menghasilkan apapun kecuali lapar dan dahaga.
oleh: Taufiqorrohman,
Kepala Kemenag Jombang
Editor : M Nasikhuddin