”Waktu jamannya Pak Adnan ini masih musala panggung, itu sudah ada sejak 1950-an,” terang Suyanto, 65, salah satu pengurus masjid bidang dakwah kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.
Dilihat depan, tampak gaya arsitektur masjid kental akan nuasa Jawa. Tampak di bagian atas terdapat bangunan tiga kubah bercorak tumpang.
Dua bangunan kubah mengapit kubah utama yang posisinya lebih tinggi. Di bagian ruang utama masjid, terdapat mimbar dari kayu. Sebagian dinding ruang utama masjid sudah dilapisi pasangan keramik. Bangunan serambi Masjid Al Adnany sangat luas sehingga mampu menampung hingga ratusan jamaah. Masjid Al Adnany didominasi warga perpaduan hijau-putih.
Menurut Suyanto, sebelum menjadi masjid seperti sekarang ini, dulunya merupakan musala Al-Qomar. ”Jadi dulu tinggalannya Pak M Adnan bapak dari Pak M Machsun pendiri masjid,” imbuhnya.
Musala Al-Qomar sudah ada sejak 1950. Bangunannya sangat sederhana bahkan mayoritas bangunan masih dari kayu. ”Kalau orang dulu nyebutnya musala panggung. Lalu Pak Adnan berpesan ke Pak Machsun untuk diteruskan menjadi masjid,” lanjut Suyatno.
Singkat cerita, pada 1982, musala itu mulai merintis menjadi masjid. Tepatnya di era 1990-an musala mulai berganti menjadi masjid. ”Jadi 1995 itu menjadi Masjid Al-Qomar. Cuma bangunannya ya masih seadanya,” lanjut Suyatno.
Tak berselang lama, nama masjid kemudian kembali diubah. ”Lalu diubah menjadi Masjid Al Adnany, itu 1998. Merujuk nama Pak Adnan,” sambungnya.
Perombakan masjid besar-besaran dilakukan pada 1999. Saat itu seluruh bangunan lawas dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru. ”Bangunan yang sekarang merupakan bangunan tahun 1999. Karena bangunnya mulai nol,” ujarnya.
Suyatno masih ingat betul, kala itu takmir masjid berjuang keras agar bisa membuat masjid yang megah. ”Karena dulu kalau buat jamaah itu sudah tidak muat. Sehingga, dibangun lebih besar supaya bisa menampung banyak jamaah,” tutur dia.
Saat itu di dusun setempat hanya terdapat satu masjid. Itupun terbilang masih kecil.Sehingga takmir masjid memutuskan merombak total. ”Kalau gaya arsitektur bangunan ini dulu kakak saya yang bagian gambar. Kurang tahu kenapa dibuat ada tiga kubah, cuma setahu saya dulu punya gambar sendiri,” kata Suyatno.
Diresmikan Bupati Affandi
SEMENTARA itu, setelah melalui proses pembangunan yang panjang, pembangunan Masjid Al Adnany akhirnya rampung. Peresmian dilakukan Bupati Jombang kala itu Affandi, tepatnya pada Maret 2002.
”Yang meresmikan Bupati Affandi pada Maret 2002. Sampai sekarang masih ada prasastinya,” terang Suyatno sambil menunjukkan papan prasasti yang terdapat tanda tangan Bupati Affandi dan KH Makki Ma’shum.
Dijelaskan, peresmian saat itu berlangsung begitu ramai. Lantaran bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. ”Sehingga sampai sekarang dilanggengkan waktu Pak Machsun babat itu juga maulid. Jadi setiap maulid itu haul, mengikuti perjuangan mendirikan masjid,” terang dia.
Sejak berdiri, Masjid Al Adnany selalu ramai dengan kegiatan keagamaan. Terlebih dengan nama besar M Machsun. Hingga pada 2009 M Machsun meninggal dunia, kegiatan masjid tetap berjalan. Selain digunakan ibadah salat lima waktu, juga kegiatan keagamaan lainnya. ”Kalau puasa itu biasanya menjelang berbuka dan habis salat Subuh ada pengajian. Kalau setelah salat Tarawih pengajian sebentar, semacam kultum,” terang dia. Editor : Rojiful Mamduh