Dia lantas mengutip QS Annisa 69. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Yaitu nabi-nabi, para siddiqin atau orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Ustad Yusuf cerita, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyampaikan wasiat di madrasahnya pada Jumat pagi, 24 Ramadan 545 H. Hai anak muda! Bersedekahlah kepadaku dengan sebiji kejujuran, niscaya kalian akan terlepas dari harta benda dan semua yang ada di rumah kalian. Aku tidak menginginkan dari kalian selain kejujuran dan keikhlasan. Manfaat darinya pun untuk kalian. Aku menginginkan kalian untuk kalian, bukan untukku. Ikutlah ucapan lidah lahir dan batinmu karena kalian diawasi oleh para malaikat. Malaikat mengawasi urusan lahiriah kalian. Kalian juga diawasi Allah. Allah mengawasi urusan batiniah kalian.
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?
Rasulullah menjawab, mungkin saja.
Sahabat bertanya lagi; Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?
Rasulullah menjawab, mungkin saja.
Sahabat bertanya lagi; Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?
Rasulullah menjawab, tidak. Artinya, seorang mukmin tidak akan berbohong, kecuali hatinya sudah terserang penyakit kemunafikan.
’’Ada tiga tingkatan kejujuran,’’ ujarnya.
Pertama, kejujuran dalam ucapan. Yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. Kedua, kejujuran dalam perbuatan. Yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Ketiga, kejujuran dalam niat. Yaitu kejujuran tingkat paling tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.
’’Untuk mencapai kejujuran tertinggi, harus dilatih sejak dini,’’ tegasnya. Jujur harus dilakukan berlandaskan keimanan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
’’Pemimpin harus jujur, minimal jujur level pertama,’’ tegasnya. Guna menghindari kesimpangsiuran informasi. Makanya yang disampaikan harus sesuai realitas.
Ditinjau dari manapun, jujur sangatlah penting. Akal mewajibkan kejujuran karena kebohongan itu buruk menurut akal. Akal mengajak melakukan sesuatu yang dinilai baik dan melarang sesuatu yang dinilai jelek.
Agama menganjurkan untuk melakukan kejujuran dan melarang kebohongan. Syariat tidak boleh bertentangan dengan akal.
Kejujuran merupakan sikap seorang mukmin. ’’Jangan meninggalkan kejujuran meskipun ada risiko merendahkanmu,’’ pesannya. Kejujuran akan menyelamatkan di dunia dan akhirat.
Sedangkan kebohongan akan membuat sengsara dunia akhirat. Boleh jadi saat awal bohong kita selamat, namun itu adalah keselamatan semu. Setelah kebohongan terungkap, kita akan menyesalinya. Walaupun tidak terungkap di dunia, pasti akan terungkap di akhirat. Editor : Rojiful Mamduh