Pertama, dimensi akidah. ’’Hanya orang-orang beriman yang bisa menerima adanya peristiwa Isra Mikraj,’’ jelasnya. Sebab jika menggunakan akal, maka tidak bisa menerima bahkan dianggap sebagai mimpi. Karena tidak akan mungkin jarak yang sejauh itu hanya ditempuh dalam waktu semalam. ’’Bagi orang yang beriman, sesuatu yang menurut akal tidak mungkin terjadi, jika Allah menghendaki, maka itu bisa terjadi seperti peristiwa Isra Mikraj,’’ urainya.
Inilah sebabnya, ayat yang menceritakan Isra Mikraj diawali dengan kalimat tasbih. Sebagaimana yang diabadikan dalam QS Al Isra 1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dalam ayat diatas jelas disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW hanya sebagai obyek. Sebagai hamba yang diperjalankan. Sehingga kalau Isra Mikraj dipandang dari sudut manusia, maka pasti tidak masuk akal.
Kita harus memandang Isra Mikraj dari dimensi akidah. Bahwa yang menjalankan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Tak ada yang mustahil jika Allah yang menghendaki.
Peristiwa Isra Mikraj merupakan ujian keimanan. Makanya setelah Isra Mikraj, muslim yang tak kuat iman akhirnya murtad. Orang kafir seperti Abu Jahal dan Abu Lahab semakin kafir.
Muslim yang kuat iman seperti Abu Bakar, langsung percaya dan makin tebal imannya. Sampai-sampai Abu Bakar mengatakan; Jika nabi menyampaikan sesuatu yang lebih tidak masuk akal dari pada itu, dia akan tetap iman.
Kedua, dimensi ibadah. ’’Oleh-oleh utama dari perjalanan Isra Mikraj adalah ibadah salat,’’ ujar Gus Anam. Salat merupakan ibadah yang paling utama bagi manusia. Bahkan salat menjadi baromater kehidupan manusia. ’’Jika salat benar-benar dijaga dan selalu dilaksanakan, maka akan menjadikan manusia baik segala-galanya,’’ tegasnya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Amal pertama yang akan dihisab di akhirat yakni salat. Jika baik salatnya, maka semua amalnya akan bernilai baik.
Ketiga, dimensi sosial. Dalam perjalanan Isra Mikraj, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam ditunjukkan peristiwa yang aneh-aneh. ’’Diantaranya, ada orang punya kuku dari tembaga yang dibuat mencakari wajahnya sendiri,’’ terangnya. Nabi bertanya pada malaikat Jibril, itu apa?
Jibril menjawab, itu gambaran dari umat nabi yang di dunianya suka menjelekkan dan mengganggu orang lain. Ini memberi peringatan agar hidup di dunia selalu baik dengan sesama.
Nabi juga melihat orang yang memukuli kepalanya dengan batu hingga pecah. Setelah itu, kepalanya utuh lagi. Dipukuli lagi, pecah lagi, utuh lagi, dipukuli lagi, dan seterusnya seperti itu. Nabi bertanya kepada Jibril, siapa mereka itu?
Jibril menjawab, mereka adalah orang yang di dunia meninggalkan salat. Editor : Rojiful Mamduh