Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dibangun Sejak 1933 dari Swadaya Warga

Rojiful Mamduh • Jumat, 12 November 2021 | 15:30 WIB
Masjid Baitul Makmur Rejoagung Dibangun Sejak 1933 dari Swadaya Warga
Masjid Baitul Makmur Rejoagung Dibangun Sejak 1933 dari Swadaya Warga


MASJID Baitul Makmlur menjadi saksi berkembangnya komunitas Islam di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. Dibangun sebelum Indonesia merdeka, hingga kini masjid masih berdiri megah dengan sejumlah rehabilitasi.



Lokasi masjid ini cukup tersembunyi. Berada di pinggir lahan bekas Stasiun Ploso. Untuk menemukan masjid ini harus melintasi gang di pinggir jalur provinsi Ploso-Kabuh. Sebuah gang kecil dengan tanda nama Masjid Baitul Makmur sebagai pintu masuk.



Sesampainya di masjid, ada tanah lapang dan areal parkir yang sangat luas di halaman masjid. Kondisi ini berbeda jauh dengan akses jalan masuk gang masjid yang sempit. Bentuk masjid, jika dilihat dari depan cukup menclok. Sangat terlihat jika bangunannya bukan baru.



“Kalau masjid ini memang sudah tua, berdiri sejak 1933 sampai sekarang sudah tiga kali direhab,” ucap Imam Hambali, 70, ketua takmir masjid.



Diceritakannya, masjid kali pertama dibangun warga Dusun/Desa Rejoagung. Awalnya berbentuk bangunan tembok sederhana dengan ukuran yang tak terlalu besar. “Kalau dulu kecil, cuma serambinya luas, bangunan tembok, tapi jendela dan pintunya kayu. Pokoknya begitu masuk masjid itu suasana dingin,” lanjutnya.



Seiring berjalannya waktu, dengan jumlah jamaah yang makin banyak, masjid kemudian direnovasi pertama pada 1977 silam. Rehabilitasi pertama tak terlalu banyak mengubah bentuk asli. Begitu juga rehabilitasi kedua tahun 1985, pembangunan hanya dilakukan untuk perbaikan atap dan perluasan serambi.



“Pembangunan total baru dilakukan 1995, kita memakai konsep masjid di Surabaya, model lebih modern,” tambah Hambali. Dalam renovasi ketiga itu seluruh bangunan lama dibongkar. Hingga kini tak ada bangunan asli dari masjid lama yang tersisa. Nama masjid juga diubah setelah renovasi ketiga. “Dulu tidak ada nama khusus, cuma masjid besar begitu saja,” lontarnya.


Sejak tahun 2000-an, salah satu tokoh masyarakat sekitar baru memberi nama masjid Baitul Makmur. Nama itu disebutnya berisi harapan agar kehadiran masjid benar-benar menjadi rumah kemakmuran bagi warga sekitar. “Ya biar berkah, dan masyarakatnya makmur,” pungkas dia.


Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang