JOMBANG – Cita rasa renyah dan gurih kerupuk uyel Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito sudah dikenal. Pengusaha kerupuk di wilayan tersebut, tetap setia menggunakan peralatan tradisional dalam proses produksi.
Salah satunya Susilo Edi Cahyono, pengusaha kerupuk uyel yang sudah menekuni usaha ini selama 33 tahun. Tepatnya sejak 1993.
’’Meskipun era teknologi sudah berkembang, kualitas rasa tetap nomor satu,’’ katanya. Untuk itu, dia masih mengandalkan mesin tradisional dalam membuat kerecek dan adonan kerupuk. ’’Kami tetap mempertahankan alat tradisional karena itu yang menjaga cita rasa renyah kerupuk. Mesin ada, tapi tetap mesin tradisional,’’ terangnya.
Menurut Susilo, kebanyakan pengusaha kerupuk uyel di desanya juga masih menggunakan cara serupa. Mereka percaya, proses tradisional menghasilkan kerupuk yang lebih gurih, renyah, dan tahan lama dibanding penggunaan mesin modern sepenuhnya.
Baca Juga: Cuaca Tak Menentu, Pengusaha Kerupuk Uyel di Jombang Tetap Raup Omzet Rp5 Juta Sehari
Setelah adonan kerupuk uyel dicetak, kerupuk dijemur langsung di bawah terik matahari selama kurang lebih satu hari. Proses alami ini diyakini mampu mengurangi kadar air secara sempurna sehingga menghasilkan tekstur yang khas ketika digoreng.
Kerupuk juga digoreng dua kali menggunakan minyak yang berbeda. Langkah ini dilakukan agar kerupuk matang merata, tidak berminyak, dan tetap renyah meski disimpan dalam waktu lama.
’’Renyah itu tidak bisa instan. Harus dijemur cukup, digoreng dua kali, dan alatnya juga jangan diganti modern semua,’’ tambah Susilo.(yan/jif)
Editor : Anggi Fridianto