Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Keren! Warga Jombang Ini Sulap Drum Bekas Jadi Bedug Jidor, Raup Cuap Selama Ramadan

Achmad RW • Senin, 30 Maret 2026 | 08:46 WIB
Warga Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito saat membuat tanjidor
Warga Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito saat membuat tanjidor

 

RadarJombang.id - Menjelang sore di sebuah sudut Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang, dentuman jidor terdengar bersahut-sahutan.

Suara tabuhan itu menggema dari sebuah bengkel sederhana di samping rumah warga. Di tempat itulah Ardani menghabiskan sebagian besar waktunya.

Pria itu tampak telaten menggosok sebuah drum logam bekas.

Tak lama kemudian, drum tersebut dipotong, dibersihkan, lalu dipasangi kulit kambing. Dalam beberapa jam, benda yang sebelumnya hanya menjadi limbah itu berubah menjadi alat musik tradisional yang siap ditabuh. 

Bagi Ardani, jidor bukan sekadar alat musik. Ia adalah sumber penghidupan.

 Dua tahun terakhir, warga Desa Plemahan itu menekuni pembuatan jidor berbahan dasar drum bekas.

Ide tersebut muncul ketika ia melihat banyak drum terbengkalai yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.

Rasa penasaran mendorongnya belajar secara otodidak. Ia menonton berbagai tutorial di media sosial, mencoba sendiri, lalu terus memperbaiki hasilnya hingga menemukan teknik yang pas.

 ”Awalnya coba-coba belajar sendiri. Saya lihat drum ini masih bagus kalau dimanfaatkan. Ternyata setelah jadi, banyak yang minat,” ujarnya.

Proses membuat jidor memang terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian.

Setelah drum dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran, bagian atasnya dipasangi kulit kambing jantan.

 “Kulit kambing ini dipilih karena lebih tebal dan kuat, sehingga mampu menghasilkan suara yang dalam dan nyaring,” lanjutnya.

Baca Juga: Selisih THR PPPK Jombang Akhirnya Cair, Kekurangan Rp 47 Ribu Sudah Dibayar Pemkab

Tahap paling penting ada pada proses pengencangan tali yang menentukan karakter bunyi.

Proses ini, sangat menentukan nyaring atau tidaknya bunyi bedug yang dihasilkan. ”Jadi ya memang harus sangat teliti untuk pengencangan tali ini,” imbuhnya.

 Jika cuaca cerah, Ardani bisa menyelesaikan hingga lima jidor dalam sehari. Namun produksi sering bergantung pada proses pengeringan kulit yang membutuhkan panas matahari. 

BAGI Ardani, Ramadan menjadi bulan berkah bagi usahanya.

Pasalnya, permintaan jidor meningkat tajam. Ya, jika Ramadan semakin dekat, suasana rumah Ardani di Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito ikut berubah. Bengkel kecil di samping rumahnya mendadak lebih sibuk dari biasanya. 

Tumpukan drum bekas, kulit kambing, serta tali pengikat memenuhi sudut ruangan. Beberapa jidor yang sudah selesai berjajar menunggu dikirim ke pemesan.

Dalam beberapa pekan menjelang bulan puasa, pesanan jidor datang silih berganti.

 ”Tidak hanya dari Jombang, tetapi juga dari Surabaya, Sidoarjo hingga beberapa daerah di Jawa Tengah,” ungkapnya.

Ia menyebut, banyak pemesan membeli jidor untuk membangunkan sahur atau digunakan dalam pawai dan perayaan Idul Fitri.

 Harga yang ditawarkan bervariasi. Untuk jidor satu sisi, Ardani membanderol sekitar Rp 900 ribu. Sementara model dua sisi dijual sekitar Rp 1,8 juta, sedangkan versi lengkap bisa mencapai Rp 2 juta per unit.

Meski terlihat seperti usaha rumahan sederhana, perputaran uangnya tidak kecil.

Dalam satu musim Ramadan, omzet yang diperoleh Ardani bisa menembus puluhan juta rupiah. ”Alhamdulillah, kalau Ramadan memang paling ramai. Bisa sampai tiga puluh jutaan lebih,” ujarnya. (riz/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#kreasi tanjidor #desa plemahan kecamatan sumobito #kreativitas warga #Warga Jombang #Jombang