RadarJombang.id - Bonsai, seni membuat miniatur pohon dari alam yang diletakkan dalam pot, semakin dikenal luas di Indonesia, termasuk di Jombang.
Salah satu penggemar bonsai yang telah lama terjun dalam dunia ini adalah Mashuri,43.
Di rumahnya di perumahan Sambong Permai Jombang, deretan tanaman bonsai berjajar sangat banyak dan beraneka macam jenisnya.
Menurut Mashuri, bonsai bukan hanya sekadar tanaman, tetapi lebih merupakan sebuah karya seni yang melibatkan imajinasi, kreativitas dan ketekunan.
“Bonsai itu unik. Kita tidak hanya merawat tanaman, tetapi juga menciptakan miniatur pohon alami,” ujarnya.
Baginya, melihat bonsai memberikan ketenangan jiwa dan bisa mengatasi stres.
Melihat pertumbuhannya yang lambat dan membutuhkan perhatian detail memberikan manfaat psikologis.
Bonsai bisa memiliki umur yang sangat panjang. Beberapa bonsai ada yang berusia puluhan tahun hingga ratusan tahun.
Bonsai yang sudah tua, dengan akar yang kuat dan cabang yang telah terbentuk dengan baik sampai hilangnya bekas kesan campur tangan sipembuatnya, akan mencapai harga yang cukup fantastis.
"Pohon bonsai yang telah terbentuk dengan baik bukan hanya bernilai material, tetapi juga memiliki nilai seni yang tinggi. Ada rasa seni yang tercipta ketika melihat bonsai yang telah tua dan berkarakter," tambah Mashuri.
Bonsai yang terawat dengan baik bisa berumur hingga ratusan tahun, menjadikannya investasi yang memiliki nilai jangka panjang.
Harga bonsai bervariasi tergantung kualitas dan usianya. Bonsai yang masih dalam tahap pembibitan dan siap tanam bisa dihargai mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000.
Namun, bonsai yang sudah setengah jadi, dengan akar dan cabang yang mendekati sempurna bisa mencapai harga puluhan juta, hingga ratusan juta rupiah.
Mashuri juga menjelaskan bonsai diklasifikasikan berdasarkan ukurannya. Mulai dari yang sangat kecil (mame) hingga yang berukuran besar.
Kategori tersebut meliputi mame (0-15 cm), small (16-30 cm), medium (31-60 cm), large (61-90 cm), extra large (XL) (91-120 cm), dan double extra large (XXL) (121-150 cm).
Pembagian ukuran ini memudahkan standar dalam pameran bonsai.
Mashuri menyebutkan bahwa jenis-jenis bonsai yang populer di Jombang antara lain santigi, sianci, hokianti, kimeng, dll. Selain itu, bonsai serut menjadi jenis yang banyak ditemukan di Jombang.
Setiap kecamatan di Jombang bahkan memiliki komunitas bonsai, menunjukkan seberapa luas minat masyarakat terhadap seni bonsai.
Bonsai biasanya terinspirasi dari pohon-pohon di alam, namun Mashuri menjelaskan bahwa Imajinasi dan kreatifitas membentuk bonsai menjadi kunci dalam membentuk bonsai.
"Inspirasi bisa datang dari mana saja mengingat bonsai adalah seni membuat miniatur pohon di alam," ungkapnya.
Seorang penghobi bonsai bisa menciptakan pohon miniatur yang menggambarkan serta mengaplikasikan fenomena di alam sehingga membentuk dan menyerupai kejadian di alam.
Seperti pohon yang berdiri kokoh, tertiup angin, mencengkeram batu, pohon berdiri menjulang dan banyak lagi contoh di alam.
"Tergantung si pembuatnya dalam mengimajinasikan drama di alam dan membentuknya sehingga menjadikannya karya bonsai," tambah Hari.
Beberapa teknik yang populer di antaranya adalah wiring dan cutting, bending, yang membantu membentuk cabang-cabang bonsai sesuai dengan gaya alam.
Baca Juga: Ikwanto, Salah Satu Pembudidaya Tanaman Bonsai yang Masih Bertahan
Mashuri menekankan pentingnya merawat bonsai secara rutin, seperti mengganti media tanam setiap tiga bulan untuk mendukung pertumbuhannya.
“Kami mengejar pertumbuhan cabang, bukan tinggi pohon. Itulah yang membuat bonsai berbeda dengan tanaman hias pada umumnya,” kata Mashuri.
Beberapa tips yang diberikan Mashuri untuk merawat bonsai adalah mengganti media tanam setiap tiga bulan, memastikan bonsai mendapat cukup sinar matahari, dan menjaga kelembapan tanah agar tidak terlalu kering.
Selain itu, pemotongan dan pembentukan cabang secara teratur juga penting untuk memastikan pohon bonsai tetap terjaga bentuknya.
(Fitri Adelia Pratiwi/Marisa Andriana)
Editor : Achmad RW