RadarJombang.id - Wisata religi Makam Mbah Sayyid Sulaiman di Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, menjadi salah satu destinasi yang jadi jujugan peziarah dari berbagai daerah.
Tak hanya sendiri, mereka biasanya datang berkelompok dan rombongan dalam jumlah besar.
Suasana sejuk menyelimuti area makam Mbah Sayyid Sulaiman. Lantunan tahlil dan doa bersama tampak terdengar lantang dari penjuru makam.
Ya, itulah suasana aktivitas peziarah di makam Mbah Sayyid Sulaiman.
Mereka tampak kusuk berdoa. Tak sedikit di antara mereka yang meneteskan air mata.
Menurut Khusnan, 59, pengurus Wisata religi Makam Mbah Sayyid Sulaiman, peziarah yang datang ke makam dari berbagai daerah. Hari Jumat lebih paling banyak.
Selain itu, pada malam - malam tertentu jumlah peziarah bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang.
Rata-rata, datang berkelompk dan rombongan.
”Kalau Ramadan khususnya hari pertama sampai 20 peziarah turun drastis, kecuali malam-malam tertentu seperti malam 21, malam 27 itu ramai mulai,’’ ujarnya.
Peziarah yang berkunjung ke Wisata Mbah Sayyid Sulaiman biasanya satu paket wisata religi dengan Makam Presiden RI ke-4 KH Abdurramah Wahid (Gus Dur) di Tebuireng.
Selain itu, paket juga sama Makam Syeckh Jumadil Kubro Troloyo Mojokerto.
”Biasanya memang satu paket, jadi habis dari Gus Dur ke sini (Mbah Sayyid Sulaiman, Red), lalu ke Troloyo,’’ tambahnya.
Saat ini, di Makam Mbah Sayyid Sulaiman telah disediakan beberapa fasilitas.
Mulai toilet, musala, pusat informasi dan kitab-kitab di area makam untuk tahli dan kirim doa.
”Fasilitas lengkap, musala juga ada,’’ terangnya.
Diceritakan, Mbah Sayyid sendiri adalah sosok pendiri Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.
Ia, adalah putra dari pasangan Mbah Abdurrohman Basyaiban dan Mbah ratu Ayu Syarifah Khadijah seorang putri Sultan Cirebon yang nasabnya tersambung dengan Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatulloh.
”Artinya Mbah Sayyid adalah cucu Sunan Gunung Jati,’’ ujar dia.
Sewaktu masih hidup, lanjutnya, Mbah Sayyid merantau ke berbagai daerah untuk mondok sekaligus menyebarkan agama islam. Salah satunya ke Pasuruan.
Di Pasuruan, ia mondok dan belajar ilmu agama kepada seorang ulama yang dikenal bernama Mbah Soleh Semendi.
”Akhirnya disana dijadikan menantu dan mendirikan pondok di Pasuruan,’’ tambah dia.
Suatu hari, Mbah Sayyid berencana kembali ke Cirebon.
Namun dalam perjalanannya ia memutuskan untuk silaturahmi dengan ulama asal Jombang bernama Mbah Raden Alief di Mancilan.
”Namun Mbah Sayyid diceritakan meninggal dan dimakamkan di sini,’’ terangnya.
Mbah Sayyid meninggal 1780. Ia dimakamkan di Dusun Rejoslamet, Desa Mancilan.
Pamornya sebagai ulama besar membuat makam Mbah Sayid ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah termasuk Cirebon dan Pasuruan.
”Ramai-ramainya 1980. Kemudian makam direhab dan dikelola Yayasan Assulaimaniyah Mancilan sampai sekarang,’’ pungkas Khusnan. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW