Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ateng, Sosok Penjual Gulali Legendaris di Timur Jombang, Sudah Sejak 1962 Lho!

Anggi Fridianto • Minggu, 22 Oktober 2023 | 18:38 WIB

 

 

Ateng, 87 penjual jajan gulali saat menjajakan dagangannya di Desa Grogolan
Ateng, 87 penjual jajan gulali saat menjajakan dagangannya di Desa Grogolan

JOMBANG - Usia bukan menjadi penghalang bagi Ateng, 87, warga Dusun  Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno, Jombang mencari nafkah untuk keluarganya.

Di usianya yang sudah renta, ia masih ulet berjualan gulali jadul berkeliling dari sekolah ke sekolah. 

Kulitnya sudah keriput, penglihatannya sudah buram.

Namun sosok pria lanjut usia ini masih lihai saat menggulung gulali di atas wajan di Dusun Grogolan.

Ia begitu antusias kala beberapa anak-anak mendatanginya untuk meminta dibuatkan gulali kesukaan mereka.

Itulah aktivitas Ateng yang berjualan gulali jadul.

”Saya jualan gulali sejak 1962 silam. Sebelum di Jombang saya jualan gulali di tempat kelahiran Pemalang Jawa Tengah. Kemudian pindah ke Jombang 1977,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang sembari melayani anak-anak yang membeli dagangannya.

Pria kelahiran 1936 ini mengaku, jualan gulali dilakoninya sejak berusia muda.

Hingga kini memiliki anak empat dan enam cucu, ia masih ulet berjualan gulali.

Gulali jadul buatan Ateng, memiliki beberapa varian.

Misalnya bentuk tembak, burung, ikan, jagung dan ular.

”Ini saya buat bentuk main anak-anak supaya mereka tidak bosan,’’ jelas dia.

Sama seperti gulali pada umumnya, gulali yang dibuat berasal dari campuran gula, air dan pewarna makanan.

”Ya, bahannya seperti gulali pada umumnya,’’ terangnya.

Setiap hari, Ateng keliling antar sekolah untuk menjual dagangannya.

Mulai sekolah yang ada di sekitar Kecamatan Mojowarno hingga sejumlah tempat wisata dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di desa-desa.

Dalam berkeliling, dia terbiasa menaiki sepeda angin yang sudah butut.

Tak jarang ia harus menuntun sepeda anginnya karena ban bocor.

”Ya kalau setiap harinya keliling sekolah,’’ jelas dia.

Harga gulali yang dijualnya sangat terjangkau. Mulai Rp 2.000 untuk gulali gulungan dan Rp 3.000 untuk kemasan cetak.

”Tapi dari dulu harganya tetap segitu,’’ jelasnya lagi.

Dalam sehari, penghasilannya tak menentu. Namun rata-rata ia mendapat antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per hari.

”Kalau pendapatan tidak menentu, tergantung jumlah pembeli,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

 

Editor : Achmad RW
#Mojowarno #Mojoagung #Jombang #ateng #gulali