JOMBANG - Anang Rudlo Udi Utomo, pria asal Desa Banjardowo, kecamatan Jombang ini sukses mengembangkan budidaya bibit anggur.
Berkunjung di rumah Anang Rudlo Udi Utomo tentu bakal kerasan.
Di pekarangan atau sekeliling rumahnya ditanami beragam tanaman anggur.
Rumah di Dusun Banjaragung, Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang itu, sederhana dan teduh.
Mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek, Tomo mengecek dedaunan tanaman anggurnya.
Sekilas memang tak tak terlihat pohon anggur yang ia tanam di sekeliling rumahnya. Karena fokus pembibitan pohon anggur.
Tomo fokus budi daya bibit anggur sejak awal pandemi Covid-19, tepatnya sejak 2020.
Tertarik dengan pohon anggur karena hobi menanam. Pandemi menjadikannya kehilangan pekerjaan.
Dari situ ia memilih untuk menekuni usaha budi daya bibit anggur.
Ketika terjun, Tomo terasa takjub. Ternyata, baru tahu bahwa cukup banyak varietas pohon anggur.
Bentuk, rasa, warna buah anggur juga beragam. Bukan hanya berbentuk bulat dan hijau atau merah tetapi juga ada berbentuk lonjong dengan warna-warna lain seperti hitam.
Tentu, ada keseruan tersendiri ketika budi daya bibit anggur. Tomo merasa di wilayah Jombang, tanaman anggur masih dianggap asing untuk ditanam.
Padahal, kabupaten tetangga sudah gencar budi daya pohon anggur.
Tak sedikit orang berpikiran bahwa pohon anggur itu pohon cocok di dataran tinggi. Padahal, pohon anggur sangat membutuhkan sinar matahari.
Justru ketika musim hujan, pohon anggur rentan diserang jamur.
”Banyak yang bilang kalau pohon anggur bisa tumbuh di Jombang, tapi tidak bisa berbuah. Padahal, nyatanya bisa. Karena banyak orang kurang mempelajari karakteristik pohon anggur,” jelas Tomo.
Hingga sekarang, Tomo masih terus belajar budi daya pohon anggur.
Kali pertama menanam varietas anggur transfigurasi, Tomo pun terus belajar melalui internet dan konsultasi dengan banyak pembudidaya pohon anggur dari berbagai wilayah.
Perlahan ia kembangkan menanam varietas pohon anggur impor. Bapak dua anak itu menerangkan, bahwa anggur impor paling banyak ditanam di Indonesia.
”Itu jenis anggur dixon, baiknor, dan masih banyak lagi lainnya,” ungkapnya.
Selama beberapa tahun ini, Tomo sudah membudidayakan 50 varietas anggur impor.
Metode ia terapkan ialah grafting atau okulasi tangkai. Jadi, bisa meminimalisasi modal awal budi daya.
Pohon utamanya varietas anggur lokal, lalu diokulasi dengan tangkai varietas anggur impor.
Baca Juga: Cerita Petani Jombang yang Dapat Banyak Cuan Dari Bertani Bayam
Hasil budi daya bibit-bibit pohon anggur tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per bibit.
Ternyata, banyak warga Jombang tertarik menanam anggur.
”Pasarnya juga sampai luar kota, yakni Bangka Belitung dan Kalimantan,” ungkapnya.
Dalam satu bulan, dirinya pernah menjual ratusan batang bibit berbagai jenis. ”Pernah ada yang dalam satu kali pesan itu 400 batang,” pungkasnya. (yan/naz/riz)
Editor : Achmad RW