JOMBANG - Ecoprint memiliki daya tarik sendiri bagi penyuka batik. Menggunakan teknik transfer warna dari dedaunan ke kain, hasil motif yang didapatkan unik, otentik dan eksklusif.
Seperti yang dilakukan Iin Masrochani, 61, warga di Dusun Ndoro, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo Jombang ini.
”Tidak ada motif ecoprint yang sama persis, karena satu kali buat, paling banyak dua potong. Itupun motifnya tidak bisa sama persis 100 persen,” kata Iin Masrochaini, 61, perajin ecoprint asal Dusun Ndoro, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo.
Sudah 13 tahun berkecimpung di dunia ecoprint, ia awalnya tak memiliki kemampuan dalam hal seni batik.
Pada tahun1992, ia merintis usaha warung makan, catering yang melayani pernikahan.
Kemudian merambah ke bisnis aksesori seperti kalung, gelang, bros dan lain sebagainya.
Baru 2008 ia mulai belajar batik tulis. Tapi ilmunya tidak terlalu digunakan. Dua tahun kemudian, ia justru tertarik dengan ecoprint.
”Saya berangkat ke Jogja untuk belajar ecoprint, cari ilmu dengan model Rp 3,5 juta untuk belajar ecoprint basic,” tutur nenek empat cucu ini.
Setelah mengantongi ilmu tentang ecoprint, ia mulai produksi sendiri. Hasilnya, mulai dilirik pasar.
Beberapa waktu kemudian, ia digandeng Dinas Koperasi Provinsi Jawa Timur untuk menjadi pemateri ecoprint di berbagai kota.
Baca Juga: Ini Cara Pemdes Mojotrisno Berdayakan Perempuan Melalui Batik Ecoprint
Menurutnya, ecoprint tak sama seperti batik. Cara pembuatannya lebih sederhana, tapi ecoprint lebih eksklusif dan memiliki pasar sendiri.
”Kalau batik itu pakai lilin atau malam yang dicairkan, ada yang pakai kuas, ada pakai cap, atau pakai canting. Sedangkan ecoprint tidak perlu menggunakan barang-barang itu,” jelasnya.
Proses pembuatan ecoprint juga cukup sederhana. Dimulai dengan mencuci kain putih yang digunakan sebagai dasar.
Tujuannya, untuk menghilangkan lilin yang menempel di kain. ”Biasanya bawaan toko itu ada lilinnya,” beber dia.
Setelah dicuci, kain harus melalui proses mordant. Ilmu yang ia dapatkan di Jogja, mordant dilakukan selama dua hari dengan mencampurkan bahan alami seperti tawas, kapur atau tunjung.
Perendaman dilakukan selama dua hari. ”Itu ilmu basic, semakin ke sini perkembangan ilmu ecoprint semakin banyak, sekarang mordant tidak perlu dua hari, langsung dipakai juga bisa dengan menambahkan cuka,” katanya.
Tujuan mordant itu agar kain siap menerima transfer warna dari daun yang ditempelkan. Setelah mordant selesai, daun bisa ditempel di atas kain.
Daun apapun bisa digunakan. Mulai daun lanang, daun jati, daun mengkudu, daun jarak, daun jambu, pakis, waru, hingga daun kenikir juga bisa digunakan untuk ecoprint.
Iin mendapatkan daun-daun itu di depan rumahnya sendiri. Ia memanfaatkan daun-daun untuk membuat batik ecoprint.
Tak hanya batik, bunga juga bisa digunakan untuk ecoprint, seperti bunga kenikir, bunga kamboja, melati dan lain sebagainya.
Bunga mawar juga bisa, hanya saja harus dipisahkan satu per satu agar tidak menggumpal hasilnya. ”Soalnya mawar kan bertumpuk-tumpuk bunganya,” jelasnya.
Sedangkan untuk warna dasar kain merah dari kayu secang, teregan untuk warna kuning, cokelat menggunakan tingi, hijau dari daun mangga, dan hitam dari manjakani.
Baca Juga: Wanita Ini Ubah Lembaran Sampah jadi Kerajinan dengan Teknik Ecoprint
Setelah semua daun ditempel, ditutup lagi menggunakan kain atau bisa juga dengan plastik, diinjak-injak agar warna daun lebih bisa menempel ke kain.
Setelah itu baru dikukus selama dua jam. Setelah dua jam selesai, kain tidak perlu dicuci, hanya diangin-anginkan tidak langsung di bawah matahari.
“Agar lebih awet dan warna lebih pekat, maka proses angin-angin bisa seminggu lebih,” terangnya.
Ecoprint menurut dia adalah teknik pengecapan daun pada kain yang anti gagal. Hanya saja, kadang hasil tak sesuai dengen ekspektasi.
Tapi hasil yang menurutnya jelek, belum tentu jelek juga di mata orang. Juga sebaliknya.
”Saya pernah bawa hasil menurut saya jelek sekali ke pameran, warnanya mbladus, malah itu yang dibeli turis,” jelasnya sambil tertawa.
Ecoprint tidak hanya bisa diaplikasikan di kain, tapi bisa juga di kertas, kulit, maupun keramik.
Kain hasil ecoprint juga diproduksi menjadi barang jadi, seperti dompet, sepatu, tas dan baju.
”Saya bisa menjahit, tapi kalau pesanan banyak, saya memanfaatkan tenaga penjahit jilbab Gadingmangu, sekaligus bagi-bagi rejeki,” kata dia.
Satu potonng kain ecoprint berukuran kurang lebih 2 meter, yang ia jual dengan harga Rp 350.000 sampai Rp 1,1 juta per potong. Yang membedakan adalah jenis kainnya.
”Kalau kain primis ya sekitar Rp 350 ribu, kalau kain bebet ejenis sutra dari serat tanaman, paling murah Rp 1 juta, kadang ya Rp 1,1 juta,” pungkasnya. (wen/bin/riz)
Editor : Achmad RW