JOMBANG - Budi daya meri alias anak bebek di Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang, Jombang telah bertahan puluhan tahun.
Usaha ini, berawal dari satu warga, kini merambah ke warga lainnya.
Salah satunya ditekuni Mujiono, 52 yang kini berhasil mengirim anakan bebek hingga Jakarta.
wek...wek...wek...suara minthi alias anak bebek saling bersahutan terdengar cukup lantang.
Siang itu, sebuah rumah sederhana di Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang, terdengar paling rame.
Suara anak bebek yang bersahutan itu makin lantang kala pria paro baya membuka sebuah kotak berukuran 2 x 1 meter.
Ya, itulah kegiatan Mujiono, salah satu pembudidaya anakan bebek setiap hari. Ia terbilang berhasil menjadi pembudidaya anakan bebek jenis peking.
”Kunci utama budi daya anakan bebek itu harus telaten. Meski aktivitasnya mudah, tapi harus teliti,’’ ujarnya, saat ditemui kemarin (10/10).
Dijelaskan, proses penetasan diawali dengan pemilihan telur yang dihasilkan indukan.
Proses pemilihan harus teliti, sebab bagus tidaknya hasil penetasan tergantung dari proses pemilihan.
”Kita teropong, kita cermati satu persatu. Kalau ada embrionya kita ambil untuk ditetaskan, kalau kosong tidak kita ambil,’’ beber dia.
Telur yang memiliki embrio selanjutnya dibawa ke proses penetasan dengan mesin penetas, selama kurang lebih 28 hari.
Namun selama itu pula pembudi daya juga harus memperhatikan perkembangan setiap berkala.
Misalnya membolak-balikkan telur, hingga memperhatikan suhu ruangan. ”Intinya tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena berpengaruh pada hasil penetasan,’’ jelasnya.
Pada umumnya, telur akan menetas setelah hari ke-28. Setelah itu, day old duck (DOD) alias anakan bebek bisa dipindahkan ke sebuah kotak kayu untuk proses pembesaran.
”Kalau ada pesanan tinggal kita kemas di-box karton,’’ jelas dia lagi.
Harga anakan bebek jenis peking yang dibudi dayakan Mujiono Rp 6.000 per ekor. Namun, ia biasa menjual per box isi 102 ekor dengan harga Rp 600.000.
”Saat ini harga meri ini cenderung turun. Kalau harga pasar bagus biasanya tembus Rp 9.000 per ekor,’’ bebernya.
Untuk pemasaran, dia sendiri sudah memiliki pelanggan tetap mulai Jombang, Gresik, Semarang hingga Jakarta.
Bahkan, seiring berjalannya waktu, budi daya anakan bebek juga makin diminati warga sekitarnya.
Saat ini, sudah ada 10-an warga sekitar yang ikut budi daya anak bebek. ”Sekarang semakin berkembang,’’ jelas dia.
Budi daya anakan bebek peking yang digeluti Mujiono sejak 1991 itu terkhusus jenis pedaging.
Bebek siap dikonsumsi setelah dipelihara mulai 1,5 bulan – 2 bulan . ”Ya memang ini jenis bebek pedaging, bukan petelur,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW