JOMBANG - Budi Daya lobster nampaknya bisnis yang cukup menjanjikan. Pasalnya, belum banyak yang melirik budi daya hewan air itu. Karenanya, sebagian pembudi daya lobster sampai kewalahan memenuhi permintaan.
Halaman rumah Heru Setiawan, 48, Warga Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito cukup luas, mulanya tak berguna dan dibiarkan begitu saja.
Akan tetapi, setelah ia memutar otaknya untuk mendapatkan cuan, lahan rumahnya mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah.
Ia memanfaatkan lahan kosong di pekarangan rumahnya, jadi tempat budi daya lobster air tawar. Usaha ini sudah ditekuninya sejak tahun 2014 silam.
Diceritakan Heru, inisiatif itu bermula dari hobinya dengan budi daya ikan.
”Daripada dibiarkan kosong, maka saya manfaatkan untuk membudidayakan lobster air tawar. Apalagi cara budi dayanya cukup mudah dan lobster ini kan juga merupakan komoditas perikanan yang menjanjikan,” ujar Heru.
Perlahan namun pasti, usahanya terus berkembang. Kini, bapak dua anak ini sudah mempunyai tujuh kolam ikan yang berisikan ratusan ekor lobster air tawar.
Aktivitas kesehariannya, cukup memantau perkembangan lobster serta memberi pakan dengan rutin.
Untuk pakannya, ia biasa menggunakan pelet, sayuran atau juga cacing.
"Jadi banyak pokok variannya. Dalam sehari memberi pakan saat pagi sama sore. Seminggu sekali dikuras kolamnya. Begitu saja cara budi daya atau perawatannya," katanya.
Baca Juga: Nasib Perajin Pandai Besi di Pucangsimo Jombang yang Kini Makin Ditinggal Pembeli
Selain membudidayakan lobster air tawar untuk dikonsumsi, ia juga membudidayakan bibit lobster.
Untuk perkembangannya memang dinilai cukup lama, bahkan hingga berbulan-bulan.
”Kalau bibitnya bisa dijual ketika sudah mempunyai ukuran 2,5 sentimeter. Kalau untuk lobster air tawar yang bisa dikonsumsi, bisa dijual ketika sudah memiliki ukuran sekitar 10 sentimeter," paparnya.
Sejumlah lobster air tawar hasil budi dayanya, dipromosikan dengan memanfaatkan media sosial.
Siapa sangka, pelanggannya sudah meluas hingga luar daerah seperti Banyuwangi dan Kota Surabaya misalnya.
”Kalau lobster bibitnya satu inci itu harganya Rp 1.500, yang dua inci harganya Rp 2.500, yang tiga inci harganya Rp 5.000 per ekornya. Lobster untuk konsumsi kita lihat isinya. Satu kilo kalau isinya 10 ekor itu kita patok di harga Rp 200 ribu, tapi kalau isi 15 ekor itu Rp 150 ribu," jelasnya.
Budi daya lobster air tawar jadi salah satu bisnis yang layak dipilih. Pasarnya hingga saat ini masih sangat besar.
”Di Jombang masih minim pembesaran lobster, padahal permintaannya lumayan, harganya juga bagus,” ungkapnya.
Untuk memulai usaha ini sebenarnya tak perlu modal besar. Asal ada lahan kosong yang bisa digunakan untuk kolam, usaha ini sudah bisa dimulai. Modalnya pun cukup ringan.
”Kalau lahan sempit, modal Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu, sudah bisa dimulai,” urainya.
Itu untuk belajar. Tapi untuk skala bisnis, minimal punya 10 kolam untuk pembesaran.
Dengan proses pembesaran yang baik, saat panen, harga jual lobster sangat tinggi. Permintaan dari sejumlah restoran dan kebutuhan ekspor sangat tinggi.
”Sekarang saja stok untuk konsumsi sudah menipis,” bebernya.
Stok yang ada sangat juga minim. ”Hanya 3-5 kilogram per bulan. Itupun ngambil dari teman-teman,” lontarnya.
Dari usaha ini, ia mampu meraup keuntungan rata-rata Rp 3 juta rupiah dalam setiap bulannya.
”Ini sebenarnya kan usaha sampingan, jadi lumayan lah buat membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap bulannya keuntungannya Rp 2-3 juta, tidak mesti sih,” pungkasnya. (yan/naz/riz)
Editor : Achmad RW