JOMBANG – Kerupuk uyel adalah makanan ringan yang banyak diburu warga setiap harinya.
Makanan yang renyah dan gurih ini banyak ditemukan di warung-warung, toko hingga restoran.
Kerupuk uyel ini, banyak dipilih sebagian orang untuk pelengkap makan khas masyarakat Indonesia.
Di Jombang, produsen kerupuk uyel yang masih bertahan salah satunya adalah Sunaryo, 67, warga Dusun Mireng, Desa Sumberagung, Kecamatan Megaluh.
Sejak merintis usaha sekitar 1992, hingga kini usahanya terus berkembang.
”Saya awal memulai usaha 1992. Alhamdulillah sampai sekarang tetap berjalan meskipun dulu sempat tutup dan mengalami kerugian,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.
Saat awal merintis usaha, ia hanya memproduksi dalam jumlah sedikit, pembuatan kerupuk uyel dilakukan secara manual.
”Jadi prosesnya manual, belum pakai mesin seperti sekarang,” imbuhnya.
Camilan ini, dibuat dari tepung tapioka, garam, bawang, dan tambahan bumbu penyedap rasa.
Tentu saja dengan sejumlah bumbu yang juga mudah ditemukan di pasaran, seperti bawang hingga penyedap rasa.
Proses pembuatan kerupuk uyel cukup sederhana. Dimulai dari memasukkan bahan ke mixer, kemudian bahan yang telah diaduk dituang dalam cetakan kerupuk dan dibiarkan sejenak.
Setelah terbentuk, dilanjutkan proses penjemuran di bawah matahari terik.
Pada musim kemarau, proses produksi kerupuk uyel lebih cepat karena proses penjemuran kerupuk lebih cepat.
”Saat musim panas seperti ini, penjemuran lewat terik matahari cukup sehari sudah kering. Tapi kalau mendung bisa sampai 2-3 hari,’’ jelas dia.
Namun, diakui justru permintaan menurun. Alasannya, karena saat cuaca panas jumlah warga yang ngemil berkurang.
”Ya dari pengalaman kami memang begitu, kalau musim hujan kebiasaan orang-orang ngemil kan meningkat, jadi permintaan naik,” papar dia.
Selain memperhatikan kualitas bahan, salah satu faktor penentu agar produk kerupuknya bisa laris terjual, yakni pada rasa.
Karenanya, bahan-bahan penyedap seperti bawang harus komplet. ”Selain itu juga penjemuran harus maksimal. Sebab, jika penjemuran tidak maksimal, waktu digoreng tidak bisa mengembang maksimal,” imbuhnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW