JOMBANG – Usaha kerajinan pandai besi di Kabupaten Jombang masih eksis. Meski pesanan alat pertanian terus menurun, sebagian perajin masih mempertahakan usaha rumahan ini.
Salah satunya digeluti Suratno, 56, perajin pandai besi asal Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo.
Kemajuan teknologi pertanian perlahan menggerus pasar kerajinan pandai besi, belum lagi harus bersaing dengan produk pabrikan.
Dentuman suara besi yang beradu dengan lempengan besi yang membara terdengar dari sebuah rumah sederhana di Desa Pucangsimo pagi itu.
Sesosok pria bertubuh kekar tampak sibuk memegang tang besar untuk menjepit lempengan besi panas membara setelah dibakar.
Tidak seperti perajin pandai besi pada umumnya, bengkel pandai besi Suratno sudah lebih modern.
Untuk membuat sabit, cangkul dan alat pertanian lainnya, Ia tidak perlu bersusah payah menempa lempengan besi menggunakan palu.
Sebab, ia sudah memiliki alat penempa besi yang digerakkan dengan mesin dinamo. ”Di tempat saya sudah menggunakan mesin, jadi lebih mudah,” terang Suratno kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Menurutnya, banyak keunggulan menggunakan mesin penempa. Selain lebih mudah, prosesnya juga lebih cepat.
Apalagi di awal merintis usaha, pesanan alat pertanian banyak. ”Keberadaan alat penempa besi ini sangat membantu,” imbuhnya.
Suratno mulai merintis usaha pandai besi sekitar 2018 lalu. Sebelumnya, ia bekerja di salah satu perajin pandai besi.
Melihat prospeknya waktu itu bagus, ia pun memberanikan diri merintis usaha sendiri di rumahnya.
”Awalnya ikut orang, kemudian memberanikan diri membuka sendiri,” ujar dia.
Berkat usaha kerasnya, usaha pandai besinya terus berkembang. Produknya semakin dikenal masyarakat luas.
Bahkan saking banyaknya pesanan, ia sampai merekrut belasan karyawan untuk membantunya menyelesaikan pesanan.
”Dulu yang membantu ada 15-an orang, sekarang saya kerjakan sendiri,’’ jelas dia.
Dalam perkembangannya, usahanya semakin sepi. Pesanan alat pertanian menurun drastis.
Jika dulu rata-rata per hati pesanan bisa mencapai ratusan alat, sekarang tak sampai 20 buah perharinya.
Ia pun terpaksa merumahkan belasan pekerjanya. ”Dulu rata-rata per hari pesanan alat bisa mencapai ratusan. Sekarang cenderung sepi, sehari mungkin kisaran 5 dan paling banyak 10 buah,’’ tambahnya.
Ia menyebut, kemajuan alat pertanian modern seperti combi atau mesin perontok padi sedikit menggerus permintaan alat pertanian manual.
”Kalau dulu musim panen permintaan tinggi sekali, sekarang orang panen sudah bisa pakai mesin,” bebernya.
Untuk memudahkan pekerjaannya, ia juga memanfaatkan mesin penempa besi yang digerakkan dengan tenaga dinamo.
Prosesnya pun sama dengan pembuatan sabit pada umumnya. Awalnya, bahan baku plat besi dipotong sesuai ukuran kemudian dibakar.
Setelah membara, lempengan besi itu kemudian dipipihkan dengan alat penempa. ”Bedanya ini tidak perlu menggunakan tenaga manusia untuk menempa,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW