JOMBANG – Kerajinan anyaman bambu dari Dusun Tulungrejo, Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito sampai saat ini tetap eksis.
Produk utama warga berupa kalo atau tempat yang biasa dipakai menyaring santan. Ini menjadi kerajinan turun-temurun keluarga.
Memasuki kampung Tulungrejo, setiap rumah terpampang anyaman bambu berupa kalo. Ada yang ditumpuk tinggi. Ada pula yang baru saja dijemur.
’’Saya dudah lama membuat kalo, sejak mbah-mbah saya dulu itu sudah banyak yang buat,’’ kata Chusnul Khotimah, Minggu (3/9), kemarin.
Bersama dua anggota keluarganya, dia menganyam setiap iratan bambu yang sudah dijemur.
Chusnul merupakan generasi keempat yang kini masih bertahan membuat kerajinan.
Hampir setiap hari tangannya mengolah bambu jenis Jawa. Mulai dari memotong hingga menganyam.
’’Sebenarnya ada bagiannya sendiri-sendiri, kebetulan keluarga kami lengkap. Ada yang motong bambunya, nganyam sampai membentuk gagangnya,’’ imbuh wanita yang kini berusia 32 tahun.
Proses produksi dilakukan di samping rumah. Awalnya, satu lonjor bambu dipotong menjadi beberapa bagian.
Dilanjutkan dibelah hingga berbentuk tipis, biasa disebut iratan. ’’Iratan itu dijemur, kemudian dianyam,’’ terangnya.
Selanjutnya, lembaran anyaman bambu dimasukkan ke dalam gagang berbentuk lingkaran.
Butuh proses lama untuk menyatukan gagang dengan lembaran anyaman. Sebab, bagian bawah harus benar-benar cekung.
’’Setelah itu, bagian atasnya dikasih bambu lagi supaya lebih kuat. Baru kemudian ditali rafia,’’ jelasnya.
Hasil anyaman itu kemudian ditumpuk dan dijadikan satu. Sembari menunggu tengkulak, kalo kembali dijemur di bawah panas matahari.
’’Jenisnya ada tiga, tergantung anyaman. Ada yang agak renggang, ada juga yang rapet,’’ tutur Chusnul.
Bambu sebagai bahan utama biasa didapat di wilayah Jombang. Harga per lonjornya Rp 10.000-Rp 15.000.
’’Jual kalonya ke tengkulak. Sudah ada yang ambil. Antara Rp 5.000-Rp 6.000 per biji,’’ kata Chusnul. (fid/jif/riz)
Editor : Achmad RW